Gimana Sih, Asa Mula Tahu Sumedang Bisa Terkenal? Begini Ceritanya

Ini dia, sajian kuliner khas tahu sumedang yang melegenda dan mendunia dengan rasa yang lezat dan gurih.(Joe/BeritaSumedang.com).

BERITA SUMEDANG –  Siapa sih yang nggak tahu, tahu sumedang! Yakin, masyarakat Indonesia pasti tahu,  penganan khas yang melegenda dari kota kecil Sumedang.

Bahkan tak hanya di Indonesia saja, tahu sumedang juga sudah terkenal sampai ke manca negara alias  sudah mendunia.

Akan tetapi, tak banyak orang yang tahu tentang sejarah tahu sumedang yang lezat dan gurih tersebut. Begini sejarahnya.

Sejarah sehingga Sumedang terkenal sebagai kota tahu, berawal dari kebiasaan pemimpin yang memerintah saat itu, yakni Pangeran Aria Soeriaatmadja yang dikenal Pangeran Mekkah. Bupati di masa Pemerintahan Belanda tersebut, memerintah tahun 1882 sampai 1919 Masehi.

Pangeran Mekkah merupakan sosok pemimpin yang sangat kharismatik dimata rakyatnya. Setiap ucapannya selalu dituruti dan dilaksanakan oleh semua bawahan termasuk masyarakatnya.

Bahkan setiap ucapannya selalu menjadi kenyataan. Tak heran, pangeran yang satu ini disebut-sebut memiliki ilmu kebatinan yang luar biasa. Rakyatnya mengenal Pangeran Mekkah menyandang ilmu “saciduh metu, saucap nyata”.

Pangeran Mekkah pun sangat dekat dengan rakyatnya. Beliau sering menemui rakyatnya untuk mengetahui langsung keadaannya, keinginan, harapan termasuk keluh kesahnya. Ia juga mempunyai kebiasaan “Ngaronda” atau istilah sekarang sidak (inspeksi mendadak).

Suatu hari, Pangeran Mekkah berjalan-jalan menemui rakyatnya, sekalian sidak di kawasan perekonomian di daerah Tegalkalong yang kini masuk wilayah Kecamatan Sumedang Utara.

Ketika sedang berjalan-jalan, dari kejauhan ia mencium aroma makanan lezat yang menusuk hidungnya. Penasaran, ia pun menelusuri sumber dari aroma tersebut.

Sampai lah Pangeran Mekkah ke sebuah toko kecil di Jalan Sebelas April, Tegalkalong yang menjadi sumber aroma tersebut. Toko kecil itu milik Babah Bungkeng (nama aslinya Ong Bun Keng), warga Sumedang keturunan Tionghoa atau Tiongkok.

Setelah melihat dari dekat, ternyata aroma itu berasal dari penggorengan tahu di toko Babah Bungkeng. Namun, Pengeran Mekkah belum tahu bahwa makanan itu adalah tahu. Apalagi tahu, makanan yang masih asing di Sumedang kala itu.

Saat itu, terjadi lah percakapan singkat antara Pangeran Mekkah dengan Babah Bungkeng. Kira-kira, seperti ini percakapannya. Pangeran Mekkah bertanya kepada Babah Bungkeng, “makananan apa itu”. Babah Bungkeng menjawab, “Togu”.

Karena kenal yang datang Pangeran Mekkah pemimpin Sumedang yang kharismatik, spontan Babah Bungkeng menyuguhi pangeran dengan tahu yang baru digorengnya.

Pangeran Mekkah mencicipinya. Setelah dicicipi, rasanya sangat enak dan lezat. Sehabis mencicipi tahu, ia mengatakan kepada Babah Bungkeng, “Tuluykeun usaha ieu, pasti bakal maju (teruskan usaha ini, pasti akan maju)”

Mendengar ucapan pangeran, betapa senang dan gembiranya Babah Bungkeng saat itu. Apalagi ucapan Pangeran Mekkah, selalu menjadi kenyataan.

Setelah tahunya dicicipi pangeran, berangsur-angsur penjualan tahu di toko Babah Bungkeng berkembang. Bahkan lama kelamaan penjualan tahunya laris manis. Tak hanya laku di Sumedang, melainkan sampai ke luar kota.

Melihat penjualan tahu sumedang di toko Babah Bungkeng maju, banyak para pedagang lainnya mengikuti jejaknya dengan berjualan tahu. Semakin maju lah usaha tahu sumedang kala itu, terutama “Tahu Bungkeng”.

Dari mulut ke mulut, masyarakat konsumen membicarakan lezatnya tahu Sumedang. Tak pelak, penjualan tahu di Sumedang “booming” hingga terkenal sampai ke luar kota. Usaha tahu sumedang merambah sampai ke beberapa daerah di Indonesia.

Sejak saat itu lah, Sumedang terkenal sebagai kota tahu. Seiring berjalannya waktu, keterkenalan tahu sumedang telah menjadi brand pasar yang sangat kuat di Indonesia.

Keterkenalannya sejajar dengan Dodol Garut dan Tauco Cianjur yang berlangsung sampai sekarang. (Joe/BeritaSumedang.com)***