Sekda Herman : “Tidak Ada Satupun Pengungsi Terlantar”

Keluarga korban sedang menunggu proses pencarian korban yang hilang akibat tertimbun longsor di Dusun Bojong Kondang, Ds. Cihanjuang, Kec. Cimanggung di tempat pengungsian di ruang kelas SMAN Cimanggung Minggu (10/1/2021). (Hadadi/"BeritaSumedang.com")***

SUMEDANG – Basarnas dan tim SAR Gabungan dari TNI, Polri dan para relawan, kembali berhasil menemukan 5 jasad korban yang hilang tertimbun longsor di Dusun Bojong Kondang, Desa Cihanjuang, Kec. Cimanggung pada hari ke-5 pencarian, Rabu (13/1/2021) hingga pukul 18.00.

Dari 5 jasad korban tersebut, 3 jasad korban yang sudah terindentifikasi nama dan alamatnya. Sedangkan 2 jasad korban lainnya, masih dalam proses identifikasi.

Tiga jasad korban yang sudah terindentifikasi, antara lain Roby Ramdhani  (23)  warga Dusun Cicabe RT 3/RW 6, Ny. Siti Maemunah (50) warga Dusun Santaka RT 3/RW 6 dan Dadang Kusnadi  (49) warga  Perum Griya Alamsari Blok F.

Dengan demikian, jumlah korban meninggal dunia yang berhasil ditemukan hingga hari ke-5 pencarian Rabu (13/1/2021) pukul 18.00 sebanyak 21 orang. Sedangkan korban hilang yang masih belum ditemukan,  21 orang. Untuk korban luka berat 3 orang dan luka ringan 22 orang,

“Ada dua fokus yang kami intensifkan sekarang ini, yakni pencarian dan evakuasi korban yang hilang tertimbun longsor dan penanganan pengungsi,” ujar Komandan Pos Komando Penanganan Darurat  Bencana Banjir dan  dan Tanah Longsor di Kec. Cimanggung dan Jatinangor, Herman Suryatman.

Ia katakan itu usai “Rapat Koordinasi Pemerintahan dan Kebencanaan” di Pendopo kantor Induk Pusat Pemerintahan (IPP)  Pemkab Sumedang, Rabu (13/1/2021).

Menurut Herman, seluruh masyarakat terutama di sekitar lokasi longsor di Desa Cihanjuang, Kec. Cimanggung maupun di lokasi banjir di Kec. Jatinangor, harus tetap waspada terhadap potesi terjadinya longsor dan banjir. Pasalnya, berdasarkan informasi  BMKG  (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) puncak musim hujan tahun 2020-2021, terjadi pada Januari dan Februari 2021. Bahkan Januari ini intensitas curah hujannya sangat tinggi.

“Ditambah lagi,  informasi dari Badan Geologi, masih ada retakan beberapa titik di lokasi longsor Cimanggung. Ini menjadi pegangan kami,” ucapnya.

Perlu maklum, kata dia, kini Sumedang menjadi daerah rawan bencana, Apalagi  puncak musim hujan, belum berakhir. Oleh karena itu, minimal dalam dua bulan ke depan semua masyarakat harus waspada dan ekstra hati-hati terhadap potensi terjadinya bencana alam longsor dan banjir.

“Terkait dengan itu, pak bupati sudah menerbitkan SK penetapan tanggap darurat sejak 11 Januari sampai 29 Januari atau sekitar  sekitar 21 hari,” ujar Herman didampingi Juru Bicara Posko Darurat Bencana Longsor Cimanggung Asep Taufiq.

Untuk fokus kedua, yakni penanganan pengungsi. Untuk lokasi pengungsi dibagi 3 zona. Ketiga zona tersebut, masing-masing zona 1 di SD Cipareuag di Dusun Bojong Kondang dengan jumlah pengungsi  143 KK (kepala keluarga) meliputi  500 jiwa.  Pendataan dan identifikasi para pengungsinya  berlangsung dinamis. Sebab, para pengungsi sebagian besar mengungsi mandiri atau banyak yang pindah ke rumah keluarga, kerabat dan tetangga terdekat.

“Sementara kami tetap harus memberikan mamin (makan minum) dan sarana prasarana lainnya,” ucapnya.

Adapun jumlah pengungsi zona 2 di sekitar perumahan SBG, sebanyak  92 KK meliputi 396 jiwa. Mereka mengungsi di Taman Burung SBG dengan menempati 5 tenda besar setingkat tenda kompi. Mereka diungsikan untuk mengantisipasi bahaya longsor susulan di Perumahan SBG. Sebab, kondisi Perumahan SBG tepatnya di bagian atas lokasi longsor Bojong Kondang termasuk zona mertah rawan longsor.

“Kemarin malam,  saya  sudah rapat dengan para ketua RT dan RW. Semua sepakat  untuk mengungsi.  Sekarang  masyarakat sudah mengungsi terutama apabila hujan dan malam hari,” ujar Herman.

Hanya saja di zona 2,  ada beberapa warga  yang ingin mengungsi mandiri.  Untuk makan,  akan akan dijamin baik di tenda SBG maupun yang tercecer di beberapa rumah keluarga dan keramat terdekatnya.  Termasuk berbagai kebutuhan lainnya, seperti vitamin dan masker.

“Prinsipnya, tidak boleh ada satu pun pengungsi yang tidak diperhatikan,  Meski standar dapur umum jatah makannya 2 kali, kami upayakan 3 kali plus dengan mie instan. Yang jelas, gizi mereka tetap harus  terjaga,” ujar Herman.

Sementara jumlah pengungsi di   zona 3, ada 32 KK atau 124 jiwa. Mereka mengungsi SD Azahra karena rumahnya terendam  banjir di daerah Cicabe dekat perumahan SBG. Jumlah pengungsi secara keseluruhan sebanyak  267 KK meliputi 1.020 jiwa. Semuanya sudah disuplai logistik.

“Mereka akan bertahan di pengungsian sampai pihak yang berwenang menetapkan situasi dan kondisinya  aman. Selama belum ada penetapan aman, akan kami tangani dengan baik,” ucapnya.

Disinggung rencana relokasi, Herman yang juga menjabat Sekretaris Daerah Kab. Sumedang menjelaskan, hingga kini masih dalam proses identifikasi dan pencarian  lahan. Alternatifnya menggunakan tanah kas desa yang aman dari bencana alam serta aman dari segi hukum kepemilikan tanahnya.

“Pemerintah akan membangun rumah baru di tempat yang aman bagi warga yang tidak mungkin lagi tinggal di lokasi longsor,” katanya.

Ia menambahkan, untuk  stok pangan bagi para pengungsi dinilai  cukup memadai. Sebelumnya, Bulog sudah  mengirim beras  1 ton. Bahkan sekarang sedang proses pengajuan bantuan beras  100 ton.  Kebutuhan pangan tersebut bukan hanya untuk para korban longsor di Cimanggung saja, tapi juga untuk korban  banjir di Jatinangor.

“Berbagai bantuan yang terus mengalir ke posko bencana, sudah terkelola dengan baik. Kami catat dan administrasikan semua logistik yang masuk dan yang keluar. Walaupun situasi tanggap darurat, tapi administrasinya harus tertib. Kami antisipasi tidak ada penyimpangan,” katanya. (Hadadi)***