SUMEDANG – Penambahan kasus Covid-19 di Kab. Sumedang hingga 26 Januari 2021, sangat tinggi. Kondisi itu terlihat, dalam 26 hari terakhir di bulan Januari 2021, ada penambahan 19 orang meninggal dunia. Bahkan penambahan kasusnya lebih dari 500 kasus baru.
“Sampai dengan 31 Desember 2020 lalu, total konfirmasi Covid-19 di Kab. Sumedang sebanyak 994 orang. Dari jumlah kasus sebanyak itu, 37 orang di antaranya meninggal dunia. Sampai Selasa (26/1/2021) tercatat jumlah total terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 1.525 orang. Dari jumlah kasus sebanyak itu, 56 orang di antaranya meninggal dunia,” kata Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir di Sumedang, Rabu (27/1/2021).
Menurut dia, jika melihat dari data- data perkembangan kasus Covid-19 tersebut, disimpulkan selama 26 hari terakhir, terjadi penambahan 531 terkonfirmasi kasus baru atau rata-rata 21 kasus baru per hari.
“Bahkan selama 26 hari terakhir ini, terjadi penambahan 19 orang yang meninggal,” katanya.

Di tempat terpisah, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kab. Sumedang, Iwa Kuswaeri mengatakan, memang penambahan jumlah Covid-19 mengalami peningkatan yang signifikan, Bahkan dalam sehari, rata-rata ada 2 orang yang meninggal dunia. Terkadang dalam sehari, sampai 3 orang yang meninggal dunia.
“Padahal, sosialisasi dan edukasi terkait pencegahan penyebaran dan penularan Covid-19, sangat intensif. Bahkan upaya penindakan pelanggaran disiplin prokes (protokol kesehatan) pun, sangat masif,” tuturnya.
Ia mengatakan, tingginya kasus Covid-19 termasuk jumlah orang yang meninggal dunia itu, dipicu beberapa hal. Peningkatan itu, pengaruh banyaknya masyarakat yang di-tracing (pelacakan). Selain itu juga, dampak positif dari semakin banyaknya pemeriksaan melalui rapif test, termasuk banyak konfirmasi kontak erat penyebaran Covid-19.
“Nah, tingginya kasus Covid-19 sebagai dampak positif dari tingginya tracing, rapid test dan banyaknya kontak erat ini, justru keberhasilan kami dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ujar Iwa.
Akan tetapi, tingginya kasus Covid-19 tersebut, ada juga akibat dampak negatif dari prilaku masyarakat dan ASN (aparatur sipil negara) yang abai terhadap prokes. Contohnya, masih banyak kerumunan masyarakat dan tidak memakai masker.
Padahal, petugas menggencarkan penindakan pelanggaran prokes. Ada kecenderungan, masyarakat kucing-kucingan dengan petugas. Selain itu juga, tak sedikit ASN yang melakukan WFH (work from home) tapi tidak diam di rumah.
“Kondisi itu, kemungkinan dampak dari kejenuhan masyarakat dan ASN terhadap pandemi Covid-19 yang berkepanjangan,” ucap Iwa. (Hadadi)***






