Rem Blong, Diduga Kuat Penyebab Bus Masuk Jurang di Tanjakan Cae Wado

Saepul Hadi (33) salah seorang korban selamat warga Perumahan RS Sidodadi Blok D No. 84, Kel. Pasirkareumbi, Kec. Subang Kota, Kab. Subang masih tergolek lemas di ruang IGD RSUD Sumedang, Jumat (12/3/2021). (Hadadi/beritasumedang.com)

SUMEDANG – Tragedi kecelakaan maut bus pariwisata “Sri Padma Kencana” yang masuk jurang sedalam 20 meter di tanjakan Cae, Kampung Kawungluwuk RT 01/RW 6, Dusun Cilangkap, Desa Sukajadi, Kec. Wado, Rabu (10/3/2021) lalu, diduga kuat disebabkan akibat rem blong.

Hal itu, diungkapkan langsung oleh salah seorang korban selamat yang masih dirawat intensif di IGD RSUD Sumedang, yakni Saepul Hadi (33). Korban warga Perumahan RS Sidodadi Blok D No. 84, Kel. Pasirkareumbi, Kec. Subang Kota, Kab. Subang.

“Detik-detik sebelum kejadian saat bus melucur kencang tak terkendali di turunan tajam Cae, sopir panik dan bilang rem blong-rem blong. Kata kernet, tenang-tenang. Jadi bus masuk jurang ini, memang akibat rem blong. Sebab, sopirnya sendiri.yang bilang begitu,” ujar korban selamat Saepul Hadi (33) menceritakan kejadian awal kecelakaan maut itu ketika ditemui di ruang IGD RSUD Sumedang, Jumat (12/3/2021).

Ia yang masih tergolek lemas, menceritakan lebih jauh kronologis kejadian kecelakaan maut tanjakan Cae yang hingga kini menelan 29 korban jiwa.

Saepul mengungkapkan, dirinya mengaku tahu betul kondisi rem blong dengan kepanikan sopir dan kernetnya. Pasalnya, posisi duduknya paling depan di tengah antara sopir dan kernet. Bahkan ia tahu dan melihat langsung, posisi RPM serta spidometer bus itu.

“Awalnya normal dan tidak ada tanda-tanda akan terjadi kecelakaan itu. Saat itu kecepatan normal 40 km/ jam. Namun, ketika bus rem blong dan sopir panik, laju bus semakin kencang di turunan Cae. Saat bus melaju kencang tak terkendali, RPM terus naik hingga mencapai 4.000. Kecepatan pun terus naik dari kondisi normal 40 km/jam, naik terus hingga 60 km/jam, naik lagi 70 km/jam dan terus naik lagi. Walaupun sopir sempat menggunakam rem tangan, laju bus tetap makin kencang tak terkendali,” katanya.

Ketika bus melaju kencang tak terkendali seolah -olah meluncur tajam di turunan Cae, kata dia, bus oleng ke kiri dan kanan jalan. Kondisi jalan saat itu, kering atau tidak ada hujan. Akan tetapi, jalanan gelap. Kelihatannya tidak ada lampu penerangan jalan umum (PJU).

“Saat bus oleng dan meluncur kencang, semua penumpang termasuk saya sangat panik. Suasana di dalam bus, ramai mencekam. Dalam kondisi panik saya pasrah akan takdir. Saat itu, saya memegang erat tiang besi bus,” tutur Saepul.

Tanpa tahu bus masuk jurang, lanjut dia, tahu- tahu ia sudah terjatuh ke jalan aspal bersama seorang korban lainnya, tanpa tahu lewat jalan mana. Bahkan ia pun tidak merasa melompat dari bus. Antara sadar dan tidak, saat itu ia merasa ada yang menarik ke luar bus.

“Ketika sadar jatuh di jalan aspal, saya mencari bus, karena tidak kelihatan di jalan. Apakah bus nabrak tiang listrik atai tidak? Saya tidak tahu. Kelihatannya nabrak kabel listrik. Sebab, saya melihat banyak kabel listrik berserakan di jalan. Bahkan ada yang konslet, saya melihat ada percikan cahaya listrik,” ujar Saepul.

Ia mengatakan, dirinya ikut dalam rombongan ziarah karena ia yang mencari busnya. Busnya dari PO Sri Padma Kencana dari Kalijati Subang. Busnya dinilai masih keluaran baru tahun 2018. “Bahkan kernetnya bilang, kampas remnya baru diganti. Makanya tidak diduga, remnya blong saat di turunan Cae,” ucapnya.

Ketika ditanya kegiatan ziarah, Saepul mengaku tidak tahu pasti. Sebab, ia di luar rombongan SMP IT Al-Muaa’wanah dan juga bukan panitia. Dirinya hanya bertugas mencari bus tersebut dan ikut perjalanan saja. “Yang saya tahu, hari pertama ziarah ke Garut lalu ke Pamijahan Tasikmalaya. Nah, hari kedua ke Pangandaran. Setelah itu, langsung pulang,” katanya.

Menurut dia, akibat kecelakaan itu, dirinya mengalami patah tulang paha kiri serta ketiga jari tangan kanan. “Kalau kepala aman. Cuma sampai sekarang, masih kerasa sakit semua,” ujarnya.

Ditempat terpisah, suasana duka masih menyelimuti rumah keluarga korban meninggal satu-satunya warga Sumedang yakni Ustad Aan Anwar Sadad (38) warga Perumahan Mekarsari Regensi II , Jalan Muray No. 10, RT 5/RW 8, Desa Mekarjaya, Kec. Sumedang Utara. Almarhum Aan, korban meninggal yang dievakuasi terakhir oleh tim SAR gabungan karena tubuhnya terhimpit badan bus. Jenazahnya sudah dimakamkan kemarin siang di daerah keluarganya di Desa Kawungluwuk, Kec. Tanjungsiang,

“Sebelumnya, saya tidak mendapat firasat apa- apa atas kejadian yang menimpa suami saya,” kata istri korban Erna Santika (37) dengan mata sembab ketika ditemui di rumah duka.

Ia mengatakan, awalnya korban tidak akan ikut ziarah bersama rombongan guru dan murid SMP IT Al-Muaa’wanah karena banyak kesibukan pekerjaan. Namun, karena pihak sekolah kembali mengajak bahkan korban akan dijemput bus di Sumedang, akhirnya korban jadi ikut rombongan bus. “Jadi, suami saya berangkatnya dari Sumedang karena dijemput bus,” kata Erna yang PNS di UPTD Farmasi Dinkes Kab. Sumedang.

Dikatakan, suaminya memang mengajar di dua sekolah di Subang. Selain sudah lama mengajar di SMA IT Darusu’ud di Pasirlaja, Ds. Pakuhaji Kec. Cisalak, Subang, juga di SMP IT Al-Muaa’wannah. “Memang suami saya aslinya dari Subang dan mengajar di sana juga. Kalau pulang, seminggu sekali. Di sini juga (lingkungam rumah), sebagai Ketua DKM Masjid Nurul Qolbi. Suka mengajar ngaji anak-anak si masjid,” tuturnya yang sudah mendapatkan santunan kecelakaan dari Jasa Raharja.

Korban dikenal masyarakat sekitar, sebagai ustad yang taat beribadah. Bahkan menjadi tokoh agama di lingkungan rumahnya. Selain sebagai ketua DKM masjid, juga rutin mengajar ngaji.anak-anak, termasuk pengajian warga sekitar.
“Kami sangat kehilangan sosok pak ustad, karena kesalehannya. Sampai-sampai masyarakat di sini bingung, untuk mencari penggantinya. Termasuk.mencari pengganti ketua DKM,” ucap salah seorang tetangganya.

Sementara itu, Humas RSUD Sumedang Dahlan Indrayana menyebutkan, jumlah pasien korban kecelakaan bus yang masih dirawat intensif di RSUD Sumedang hingga Jumat (12/3/2021) pukul 17.00, seluruhmya 15 orang. Pasien sebanyak itu, antara lain dirawat di ruang ICU 2 orang, HCU 3 orang, di ruang rawat inap Jasmin 5 orang, ruang Angkrek 4 orang dan IGD 1 orang. Sementara untuk pasien yang sudah pulang 21 orang dan yang meninggal dunia masih tetap 29 orang.

“Hingga kini tim medis terus berupaya melakukan penanganan intensif para pasien yang masih dirawat,” tuturnya. (Hadadi)***