BERITA SUMEDANG – I’tikaf berasal dari bahasa Arab, “akafa” yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Orang yang sedang beri’tikaf disebut mu’takif.
Dalam Islam, I’tikaf merupakan suatu ibadah berdiam diri di dalam masjid untuk mencari keridaan Allah SWT dan bermuhasabah atas perbuatan-perbuatannya.
Rasulullah SAW terbiasa menjalankan I’tikaf khususnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dijelaskan dalam hadits, Aisyah RA berkata,” Nabi Muhammad SAW senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan, sampai Allah SWT mewafatkan beliau. Sepeninggal beliau, istri-istri beliau juga melakukan I’tikaf.” (HR. Bukhari dan Muslim )
Namun, I’tikaf tidak hanya dikerjakan pada bulan Ramadhan saja. Di luar Ramadhan, I’tikaf tetap disyariatkan untuk dikerjakan.
I’tikaf dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dapat diisi dengan berbagai amal saleh seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, atau berdoa.
Dan hal-hal yang dapat membatalkan I’tikaf tersebut, diantaranya :
1. Jimak (Berhubungan Suami Istri)
2. Keluar dari Masjid tanpa Udzur
3. Mabuk
4. Murtad
5. Haids dan Nifas
Sedangkan yang tidak termasuk membatalkan I’tikaf, yakni buang air besar, makan dan minum, serta menjenguk orang sakit, seperti diterangkan dalam Hadits,” Rasulullah SAW pernah menjenguk orang sakit, padahal beliau sedang beri’tikaf”. (HR.Abu Daud)
Hukum dasar pelaksanaan I’tikaf adalah sunah, sehingga pelaksanaannya dapat dilakukan pada waktu kapan saja.
Namun, I’tikaf dapat saja menjadi wajib bagi seseorang yang sudah bernazar untuk melakukannya.
I’tikaf dianjurkan untuk dikerjakan saat bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah swt dalam Surah Al Baqarah ayat 187 sebagai berikut:
فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ – ١٨٧
Artinya: “… Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.”(QS. Al Baqarah 2:187)
Waktu paling utama untuk melaksanakan I’tikaf pada bulan Ramadhan, yakni pada sepuluh hari terakhir bulan suci tersebut.
Demikianlah, penjelasan mengenai I’tikaf dan hal-hal yang membatalkannya. Semoga diberi kelancaran untuk menjalankan ibadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini. (Uki)***
Sumber : dari berbagai sumber







