BERITA SUMEDANG – Yanto Aryanto (38) anak petani dari Kecamatan Situraja, kini menjadi salah seorang pengusaha kopi yang sukses di Kabupaten Sumedang.
Warga Dusun/Desa/Kecamatan Situraja RT 04/RW 02 yang mulai menapaki usahanya sebagai pedagang es kelapa di rumahnya hingga 2019 itu, merintis sebagai pengusaha kopi dari nol.
Ketiadaan modal usaha tak luput menjadi kendala utama saat itu. Namun, Yanto tak patah arang. Justru, ia membuka mindset usahanya dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumberdaya manusia di daerahnya.
Berbekal peralatan produksi coffee shop bantuan dari pemerintah, ia mulai memberdayakan anggota Karang Taruna yang ada di desanya.
“Saya mulai merintis memproduksi kopi khas Situraja, tidak memaksakan meminjam uang kesana- kemari. Modal saya, semangat dan tekad bulat untuk berbisnis kopi,” ujar Yanto di Sumedang, Rabu, 7 Juni 2023
Menggeluti bisnis kopi, awalnya Yanto mendatangi para petani kopi di Situraja, Bangbayang, Cisitu dan Wado.
Petaninya pun, petani kopi yang sudah berpengalaman. Bahkan mereka memiliki berbagai jenis atau varian kopi yang baru.
Lalu, ia mengolaborasikan kopi hasil panen para petani itu, dengan peralatan produksi coffee shop miliknya
“Penggunaan peralatan tersebut, supaya praktis dan menghemat waktu saat memproduksi kopi dalam kemasan,” kata Yanto.
Baca juga: Keunggulan Ini Jadi Jurus Sumedang Menarik Investor Cina
Peralatan dan mesin produksi kopi itu, lanjutnya, sudah lengkap dengan paket tube kecil berisi biji kopi giling. Dengan begitu, ia bisa memproduksi kopi dalam kemasan dengan standar UMKM.
Rutin ikut pameran
Guna memasarkan produksi kopinya, Yanto rutin mengikuti berbagai pameran dan kegiatan pemerintah dan instansi lainnya.
Salah-satu kegiatan yang melambungkan produksi kopinya itu, ketika acara “Digital Marketing International” di IPDN Sumedang.
Saat itu, Yanto banyak bertemu para pengunjung dan konsumen dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Semarang.
Baca juga: Setelah Dilantik, Komite Ekonomi Kreatif Harus Gercep Bekerja
Yanto memanfaatkannya dengan melakukan pendekatan dan memberikan penjelasan kepada para pengunjung tentang kopi hingga mereka faham. Wal hasil, banyak pengunjung yang mau mencicipi kopi seduh produksinya.
“Awalnya mencicipi, ternyata para pengunjung banyak yang membeli dan memesan kopi kemasannya. Bahkan banyak yang meminta sampel untuk membantu pemasarannya.
Dengan kesuksesan ini lah, saya membuat brand produksi kopi saya dengan nama ‘Kopi ‘Koedjang’” ujar Yanto.
Sukses di IPDN, ia makin bersemangat mengembangkan usaha “Kopi Koejang” buatannya itu. Yanto terus mengikuti setiap acara pameran dan event lainnya untuk menggencarkan pemasarannya.
Baca juga: Ada Tiga Hal Penting Mengembangkan Desa Wisata, Apa Saja?
Misalnya, membuka stan pada acara di Kantor Baznas Sumedang, kantor Pem kab Sumedang, Samsat serta kantor Pos Sumedang.
“Alhamdulillah, pengunjung dan konsumen yang sudah menyicipi kopi produksi saya, cukup puas. Bahkan menurut mereka, kopi siaturaja ini unik dan aman di lambung.
Sebab, saya memakai campurannya gula aren. Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada keluhan,” katanya.
Sukses bisnis kopi
Kesuksesan berbisnis kopi, tampak jelas dari peningkatan produksi hingga pendapatan cuannya.
Baca juga: Sumedang Industrial Polis Ditawarkan untuk Investasi Industri Mobil Cina
Dari awalnya hanya memproduksi kopi 2 sampai 3 kg per bulan, kini melonjak menjadi 15 sampai 30 kg per bulan.
Otomatis omzet penghasilannya pun melejit dari asalnya Rp 1 juta per bulan, kini kisaran 5-6 juta per bulan.
“Alhamdulillah, ada peningkatan yang cukup signifikan. Bahkan sekarang saya memproduksi kopi kemasan sachet Rp 10.000 per 3 bungkus sachet.
Kini saya memproduksi rata-rata 600 sampai 800 sachet per bulan. Alhamdulillah, penjualannya laris manis,” ucap Yanto.
Baca juga: Buruan Nonton! Karnaval SCTV 2023 di Alun-Alun Sumedang Hari Ini! Gratis Lho
Untuk wilayah pemasarannya, ia tak sebatas membuka kafe dan menjual “Kopi Koedjang” dalam kemasan di Situraja saja, melainkan ke berbagai daerah di luar kota, melalui berbagai pameran dan acara lainnya.
Keikutsertaannya pada gelaran pameran UMKM, penghasilannya cukup melonjak. Sehingga, ia harus menambah tenaga kerja. Untuk tenaga kerja, ia merekrut tenaga kerja yang ada, terutama pemuda Karang Taruna Desa Situraja.
“Lumayan, mereka punya penghasilan sekedar untuk uang jajan supaya tidak meminta kepada orang tua. Namun, yang terpenting bagi mereka, usaha ini menjadi pembelajaran ke depannya,” ucap Yanto.
Terkait banyaknya para pengusaha kopi sehingga terjadi persaingan, ia tidak merasa takut. Pasalnya, masing-masing produksi kopi memiliki ciri has berbeda. “Artinya, urusan rasa kembali ke konsumen,” ujarnya. (Aje)***







