Budidaya Lebah Madu Trigona Menjadi Peluang Usaha Yang Menjanjikan Dalam Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Desa

Ketua Kelompok Budidaya Lebah Madu I, Jawa Barat, Ade Rohana bersama Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir saat di lokasi Budidaya Lebah Madu Pasundan, bertempat di sekitaran perkebunan teh Margawindu, Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (Ukie/BeritaSumedang.com)

BERITA SUMEDANG – Budidaya lebah madu trigona merupakan peluang usaha yang menjanjikan.

Jenis madu trigona ini, atau madu teuweul bagi masyarakat di Jawa Barat nama yang tidak asing lagi, dan sebagian orang mengenalnya dengan sebutan madu Klanceng.

Madu tersebut, berbeda dengan madu biasa yang memiliki tekstur kental, madu trigona cenderung bertekstur cair.

Baca juga: Gedung UMKM dan Industri Kreatif Akan Hadir di Jatinangor

Ketua Kelompok Budidaya Lebah Madu I Jawa Barat, Ade Rohana mengungkapkan bahwa budidaya lebah madu adalah peluang usaha yang sangat menjanjikan dan membantu dalam perekonomian masyarakat.

Menurut Ade, lelaki berusia 46 tahun ini, dengan panggilan akrabnya Pak Ewok, bahwa dengan budidaya lebah madu merupakan bagian dari menjaga habitat dan kelestarian alam.

“Budidaya lebah madu bisa menjadi bagian menjaga habitatnya, juga kita bisa menjaga kelestarian alam” ujarnya.

Selain itu juga, menurut Ade dengan budidaya lebah dapat membuka lapangan usaha bagi masyarakat dalam meningkatkan perekonomiannya.

Baca juga: Pemda Sumedang Kembali Lepas Peserta Magang dan Tenaga Kerja Spesifik Ke Luar Negeri

Meningkatnya Kebutuhan Madu Bagi Kesehatan

Kian meningkatnya kebutuhan akan madu, dengan berbagai macam khasiatnya bagi kesehatan tubuh. Menjadi target baginya untuk menyediakan pesanan kebutuhan masyarakat.

Hal itu, Pak Ewok terangkan pada saat Beritasumedang.com berkunjung ke Budidaya Lebah Madu Pasundan miliknya, yang berlokasi di sekitaran perkebunan teh Margawindu, Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Sabtu 1 Oktober 2022.

Dari latar belakangnya, sebagai pedagang asongan, Pak Ewok memiliki kegemaran berjalan ke hutan mencari madu untuk konsumsi sendiri dan bagi keluarganya.

Dari sanalah, ia mencoba merintis usaha budidaya lebah madu hutan, bersama rekan-rekannya dengan membentuk kelompok Budidaya Lebah Madu Pasundan.

Usaha tersebut, ia rintis telah berjalan selama empat tahun. Dari hasil tersebut, saat ini Pak Ewok dapat meningkatkan pendapatan rumah tangganya, juga ia dapat membangun rumah dan membeli kendaraan pribadi.

Selain itu, kini kesibukannya sebagai pembicara dalam pelatihan budidaya bersama Dinas Kehutanan. Dan, pesertanya dari tingkat SMU hingga perguruan tinggi di Jawa Barat. Bahkan, sampai ke tanah Papua.

Menurutnya, omset dari hasil budidaya lebah madu itu bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta. Dengan estimasi harga perkilogram madu trigona sebesar Rp. 250.000 per kilo, dan hasil panen perbulannya rata-rata 70kg hingga 100kg.

Dengan demikian, budidaya lebah madu bisa menjadi salah satu peluang yang besar dan menjanjikan. Jika pengembangannya, mengikuti arahan dari pelatihan-pelatihan maupun seminar.

Baca juga: Heboh, Penyanyi Dangdut Lesti Kejora Laporkan Suaminya Rizky Billard ke Polisi! Ada Apa Ya?

Lebih lanjut, Ade Rohana berharap dengan adanya budidaya lebah madu kedepannya, madu trigona bisa menjadi komoditi unggulan UMKM di tingkat desa.

“Adanya pengembangan budidaya lebah madu di tingkat desa, berharap masyarakat desa bisa menambah penghasilan dan madu trigona menjadi komoditi unggulan” katanya.

Selain itu, tidak hanya menghasilkan madu, pelatihan budidaya lebah madu juga bisa memperluas pengetahuan mengenai manfaat lebah trigona secara kesehatan juga nilai ekonominya. (Ukie)***