BeritaSumedang.com – Desa Ungkal Kec. Conggeang menjadi salah satu desa yang nol kasus Covid-19. Bahkan kondisi itu, berlangsung sejak ada pandemi Covid-19 di Indonesia.
“Dari awal, alhamdulillah tidak ada satu pun warga kami yang terpapar Covid-19. Apalagi yang sampai meninggal dunia,” ujar Kepala Desa Ungkal, Kec. Conggeang, Deden Sudinta dihadapan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir saat monitoring PPKM Darurat di Posko Satgas Covid-19 Desa Ungkal, Kec. Conggeang, Sabtu (10/7/2021).
Ia mengatakan, dengan keberhasilan tersebut, dirinya bersama jajaran Satgas Covid-19 Desa Ungkal bertekad akan terus mempertahankannya. “Upaya itu, di antaranya mengawasi dengan ketat pendatang yang masuk ke desa kami, termasuk warga kami yang baru datang dari luar kota,” kata Deden.
Menurut dia, kendati semua warganya aman dari Covid-19, pemerintah desa tetap menyiapkan rumah isoman untuk mengantisipasi apabila ada warga yang terpapar Covid-19. Lokasinya di Kampung KB dekat Makam Keramat. “Mudah-mudahan, tidak ada warga yang diisolasi. Semuanya sehat-sehat dengan tetap disiplin menjaga prokes,” tuturnya.
Dikatakan Deden, dirinya bersama Bhabinkamtibmas (polisi) Bhabinsa (TNI) dan perangkat desa, rutin melakukan patroli wilayah dan sosialisasi prokes terhadap warga. “Kami sudah membuat jadwal untuk pengawasan dan penjagaan di Posko Desa, siang dan malam. Semua pihak terlibat. Selain oleh tiga pilar desa, juga dibantu bidan desa, para kader serta para ketua RW dan RT,” ucapnya.
Ia menambahkan, di wilayahnya jumlah penduduknya paling sedikit dibanding desa lainnya di Kec. Conggeang, yakni sekitar 700 jiwa atau 250 KK (kepala keluarga). “Dari sekitar 700 jiwa, jumlah KK miskin ada 39 KK. Kami menargetkan 7 KK miskin berkurang tahun ini,” ucapnya.
Menangapi hal itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengapresiasi prestasi Desa Ungkal yang tidak pernah ada kasus Covid-19. Disaat desa lainnya mengalami lonjakan kasus, Desa Ungkal mampu mempertahankan status zona hijau dengan kondisi zero case. “Ini patut diapresiasi dan dicontoh desa lainnya,” ujarnya.
Pemerintahan Desa Ungkal, kata dia, harus terus mempertahankan status zona hijau tersebut. Satgas Covid-19 desa semuanya harus turun mengawasi jalannya PPKM Darurat. “Kewajiban kita menjaga warga agar tidak terpapar. Apa yang sudah berjalan baik, pertahankan dan lanjutkan,” ucapnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, selain mengecek Desa Ungkal, juga ke Desa Jambu dan Desa Cipamekar, Kec. Conggeang. Hasil pengecekan, di Desa Jambu pasien yang terpapar Covid-19 sejak Januari 2021 sebanyak 21 orang. Sekarang, semuanya sudah selesai isoman. Begitu pula di Desa Cipamekar kasus aktif 16 orang. Warga yang selesai isoman 2 orang dan meninggal 2 orang.

Bupati Dony pun mengunjungi Puskesmas Rawat Inap Conggeang yang kebetulan sedang tidak melayani pasien rawat jalan dan inap. Pasalnya, di Puskesmas itu sedang melaksanakan sterilisasi.
Dari 75 orang petugas yang ada, 2 orang sedang menjalani isoman. Sejak Juli 2020 sampai sekarang, jumlah petugas Puskesmas Conggeang yang terpapar 32 orang, 2 di antaranya sedang isoman.
“Itu sebabnya, Puskesmas Conggeang sekarang sedang disterilisasi. Jadi, tidak ada aktivitas pelayanan,” ucapnya.
Dony meminta Satgas Penanganan Covid-19 tingkat desa, memantau terus warganya yang sedang isoman di rumahnya. Segala kebutuhannya terutama makanan dan obat-obatan, mesti dipenuhi.
“Jangan sampai tidak terpantau. Apalagi kalau ada warga sampai meninggal dunia ketika isoman. Oleh sebab itu, arahkan supaya dirawat di tempat isoman desa, jika gejalanya naik ke sedang. Sebab, ada petugas khusus yang berjaga,” ujarnya.
Ketika di Puskesmas Rawat Inap Conggeang, Dony pun sekaligus mengecek ketersediaan obat-obatan, oksigen dan APD. Dari laporan Puskesmas, yang kekurangan seperti obat-obatan jenis antibiotik dan obat batuk. Oksigen juga masih kurang, hanya ada 5 tabung besar. Idealnya, harus ada 12 tabung.
“Puskesmas Conggeang harus segera mendata dan mengajukan berbagai kebutuhan yang kurang. Saya minta diinventarisir agar bisa kami penuhi kekurangannya,” ujar Bupati Dony.(Hadadi)***







