SUMEDANG-Inspektorat Kab. Sumedang hingga kini masih memeriksa kejadian ambruknya atap gedung Geo Theater Pusat Budaya Sunda di Desa Sukamaju, Kec. Rancakalong, Selasa (8/12/2020) lalu. Pemeriksaannya, di antaranya dengan meminta bantuan tim ahli dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dirjen Cipta Karya.
Bantuan tim ahli itu, untuk meneliti penyebab pasti ambruknya atap gedung Geo Theater tersebut. Apakah kejadian itu akibat faktor bencana alam karena disapu angin kencang atau akibat rendahnya kualitas bangunan.
“Kami ingin objektif dalam mengaudit ambruknya atap Geo Theater ini. Oleh karena itu, kami sudah mengonfirmasi kepada ahlinya yang berkompeten, yakni BMKG dan Kementerian PUPR,” ujar Inspektur Kab. Sumedang Subagio ketika ditemui di ruang kerjanya, Kamis (17/12/2020).
Menurut dia, Inspektorat sudah mengonfirmasi BMKG, untuk meneliti apakah ambruknya atap Geo Theater itu karena faktor bencana alam akibat disapu angin kencang? Inspektorat juga sudah meminta bantuan ahli bangunan gedung di Kementerian PUPR Dirjen Cipta Karya. Ahli bangunan gedung akan meneliti, apakah kualitas bangunan itu sudah memenuhi syarat dan ketentuan struktur bangunan?
“Itu bagian pemeriksaan yang sedang kami lakukan. Sampai sekarang, tim ahli masih melakukan penelitian. Kami juga sedang menunggu hasilnya, Terlepas bagaimana hasilnya nanti, dugaan sementara ambruknya atap Geo Theater itu akibat disapu angin kencang. Untuk kerugian materinya, masih dalam proses pengumpulan data. Yang pasti, kerusakan atap yang ambruk mencapai 70%,” kata Subagio.
Inspektorat juga, sambung dia, sedang memeriksa penganggarannya. Meski penganggaran sebelumnya sudah diaudit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), dengan kejadian tersebut Inspektorat bisa memeriksa kembali penganggarannya. Saat anggarannya diperiksa BPK, sempat muncul TGR (tuntutan ganti rugi). Akan tetapi, TGR atau kelebihan pembayaran sudah diganti atau diselesaikan oleh pihak kontraktor. “Dengan kejadian tersebut, kami akan memeriksa kembali penganggarannya,” tuturnya.
Lebih jauh Subagio menjelaskan, untuk lebih meyakinkan mencari penyebab pasti ambruknya atap Geo Theater tersebut, bisa juga dengan memeriksa berkas perencanaannya. Dari perencanaan tersebut, bisa dilihat kualitas struktur bangunan yang disesuaikan dengan kondisi alam dan geografis di lokasi Geo Theater itu dibangun. Perencanaan projek Geo Theater dibuat oleh Pemprov Jabar.
“Perencanaan itu pun, bisa menjawab keraguan masyarakat yang mempertanyakan pembangunan projek tersebut. Masyarakat meragukan, masa projek gedung semahal dan sebesar itu tidak memperhitungkan kondisi alam dan cuaca di lokasi, termasuk hembusan angin kencang di dataran tinggi? Nah, keraguan warga bisa terjawab dengan memeriksa perencanaan yang dibuat sebelumnya,” tuturnya.
Disinggung beragamnya tanggapan masyarakat yang menduga ambruknya atap Geo Theater itu diduga akibat rendahnya kualitas bangunan padahal biaya pembangunannya cukup besar, Subagio menilai tanggapan masyarakat itu dinilai wajar dan sah-sah saja. Akan tetapi, guna memastikan penyebabnya, Inspektorat tetap harus memeriksa secara objektif sesuai hasil penelitian tim ahli dari BMKG dan Kementerian PU. Hanya saja, tak dipungkiri gedung Geo Theater yang dibangun tahun 2019, menelan biaya yang cukup besar mencapai Rp 3,9 miliar.
“Pemeriksaan kejadian ambruknya atap Geo Theater ini harus ekstra hati-hati, karena melibatkan banyak pihak. Jadi, masyarakat harap sabar, pemeriksaannya masih dalam proses,” ucapnya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan mengaku kecewa sekaligus prihatin dengan kejadian ambruknya atap Geo Theater tersebut. Bahkan dirinya cenderung meragukan sekaligus mempertanyakan kualitas dari projek Geo Theater tersebut.
“Masa anggaran yang begitu besar sampai miliaran rupiah, atapnya bisa ambruk begitu! Gedung ini kan dibangun dari uang rakyat! Bangunan Geo Theater itu, harusnya kuat dan kokoh sampai puluhan tahun. Masa baru 2 bulan sudah ambruk disapu angin kencang. Sementara saung-saung (gubug) atau bangunan kecil di sekitarnya, tidak roboh. Makanya, pembangunan projek itu harus diperiksa lagi. Apakah bangunan itu susah sesuai dengan FS (Feasibility Study) atau DED (Detail Enginering Desaign)?” tuturnya.
Kejadian ambruknya atap Geo Theater itu, kata dia, sudah ditinjau langsung ke lapangan bahkan kini sedang diaudit oleh Inspektorat. “Kejadian ini harus ditindaklanjuti dengan serangkaian pemeriksaan sesuai aturan yang berlaku,” ujar Erwan. (Hadadi)***







