Ini Beberapa Tradisi Peninggalan Kerajaan Sumedang Larang yang Dilestarikan Masyarakat

Ilustrasi : Pihak Keraton Sumedang Larang sedang menurunkan 7 benda pusaka peninggalan para raja Kerajaan Sumedang Larang untuk untuk dicuci dan dibersihkan pada tradisi jamasan (pencucian benda pusaka) mulai tanggal 1 Mulud, Jumat, 8 Oktober 2021 lalu di Museum Prabu Geusan Ulun (MPGU) komplek Srimanganti, Sumedang, Jumat, 8 Oktober 2021 lalu. (Joe/BeritaSumedang.com)

BERITA SUMEDANG – Kejayaan dan kebesaran Kerajaan Sumedang Larang, sangat terasa di Kabupaten Sumedang saat ini. Bahkan masyarakat melestarikan nilai-nilai sejarah, budaya dan filosofinya, dengan melaksanakan berbagai acara dan kegiatan rutin hingga menjadi tradisi tahunan.

Dari informasi Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang beberapa waktu lalu, beberapa tradisi masyarakat dalam memperingati dan melestarikan kebesaran Kerajaan Sumedang Larang yang berlangsung sampai sekarang, seperti halnya “Ngumbah Pusaka”.

Tradisi ini dilaksanakan tanggal 1 sampai 11 Maulud bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gedung Srimanganti, MPGU.

Dalam tradisi itu, 7 benda pusaja yang menjadi koleksi di MPGU dicuci dengan prosesi dan ritual khusus. Ketujuh benda pusaka tersebut, antara lain Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tadjimalela, Keris Ki Dukun peninggalan Prabu Gajah Agung, Keris Panunggul Sakti peninggalanm Prabu Geusan Ulun

Selain itu, Keris Nagasasra 1 dan 2 peninggalan Pangeran Rangga Gempol III dan Pangeran Kornel serta Badik Curuk Aul 1 dan 2 peninggalan Embah Jaya Perkosa.

Ngumbah Pusaka itu, menjadi tradisi masyarakat Sumedang yang rutin dilakukan setiap Muludan. Jadi, masyarakat yang memiliki benda pusaha, dicucinya di bulan Maulud.

Tradisi ini, seperti halnya diterapkan oleh masyarakat di Kec. Rancakalong, Pamulihan dan Darmaraja

Tradisi lainnya, yakni Muhamaraman. Tradis ini dilakukan dengan membacakan sejumlah babon (buku) atau naskah kuno yang menceritakan sejarah dan kejadian alam semesta, termasuk Manakib (riwayat dan sejarah) Kerajaan Sumedang Larang. Naskah kuno yang dibaca, di antaranya Waruga Jagat, Layang Darmaraja dan Tukuh Cipaku.

Isi naskah kuno ini dibacakan sekaligus diceritakan kepada masyarakat luas. Tak hanya warga Sumedang saja, masyarakat dari luar kota pun banyak yang mengikuti tradisi Muharaman ini. Pembacaan naskah kuno ini hanya dilakukan 14 Muharam. Di luar waktu itu, tidak bisa. Jadi, sejumlah naskah kuno itu hanya bisa dibaca dan diceritakan isi dan kandungannya, pada 14 Muharam.

Untuk memperingati kebesaran Kerajaan Sumedang Larang, setiap tahunnya diselenggarakan “Kirab Panji” Kerajaan Sumedang Larang yang melibatkan Masyarakat Adat Keraton Sumedang Larang.

Gelaran tersebut menjadi rangkaian Hari Jadi Sumedang (HJS) yang jatuh pada 22 April. Kirab Panji merupakan kegiatan “Napak Tilas” sejarah Kerajaan Sumedang Larang yang dilaksanakan mulai 16 April sampai 22 April.

Kirab Panji dimulai dengan acara ”Ngaruhan” atau pemberkatan di Desa Sukaratu, Kec. Darmaraja. Panji Keraton Sumedang Larang, kemudian diarak ke beberapa daerah yang dilewatinya secara estafet.

Rutenya dari Darmaraja- Cisitu-Situraja- Ganeas-hingga tiba di Alun-alun Tegalkalong, Kec. Sumedang Utara. Tiba di Tegalkalong, dilakukan Kirab Keraton hingga dilaksanakan prosesi penyerahan Mahkota Binokasih dari Kerajaan Pajajaran kepada Raja Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.

Selanjutnya, dilakukan arak-arakan Raja Prabu Geusan Ulun yang mengenakan Markota Binokasih bersama ratunya dengan menggunakan Kereta Naga Paksi. Arak-arakan tersebut dikawal para prajurit pasukan Kerajaan Sumedang Larang.

Yang paling penting dan substansial dalam peringatan HJS ini, penyerahan Mahkota Binokasih dari Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun pada 22 April, ditetapkan sebagai Hari Jadi Sumedang yang sudah diakui semua pihak.

 

Sementara itu,  Ketua Umum Dewan Kebudayaan Sumedang, Tatang Sobarna menambahkan, tradisi lainnya dalam melestarikan kebesaran Kerajaan Sumedang Larang, yakni pelestarian situs makam keramat para raja.

Bahkan makam karuhun Sumedang, Prabu Aji Putih yang tenggelam di dasar Waduk Jatigede, akan dibuat reflikanya berupa situs terapung.

Sebanyak 48 situs lainnya yang ditenggelamkan pada pembangunan Waduk Jatigede, sebelumnya sudah diberi tanda berupa balon terapung. Hanya saja, ada beberapa talinya yang lepas, termasuk tanda makam Prabu Aji Putih.

“Akan tetapi, makam Prabu Aji Putih sudah didapat titik koordinatnya sehingga bisa dibuatkan reflika situs terapung. Nah, ziarah ke makam “Eyang Haji” (Prabu Aji Putih) yang setiap Lebaran rutin dilakukan masyarakat, bisa kembali dilakukan setelah dibangun situs terapung, pascaditelenggelamkan,” tuturnya.

Peringatan lainnya, kata dia, diwujudkan dalam bentuk pelestarian berbagai kesenian tari keraton peninggalan para raja.

Tari keraton itu, pertunjukan khusus bagi para menak. Jenis tariannya, antara lain Tayub, Suraning Pati, Yayeng Rara dan Ganda Manah. Gerakannya mengandung tarian klasik yang berbeda dengan tari lainnya.

“Pelestarian kesenian lainnya, yakni pelestarian gamelan Sari Oneng Parakansalak yang dimainkan setiap Minggu. Bahkan lagu-lagunya diciptakan oleh para raja,” katanya. (Joe).***