BERITA SUMEDANG – Marhaban ya Ramadan 1443 Hijriyah tahun 2022. Pada bulan suci Ramadan, umat Muslim diwajibkan berpuasa satu bulan penuh.
Umat Islam wajib berpuasa, berdasarkan Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah, ayat 183 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”
Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: 1. Bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, 2. Menunaikan shalat, 3. Membayar zakat, 4. Berpuasa di bulan Ramadan, 5. menunaikan haji ke Baitullah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dikutip BeritaSumedang.com dari bali. kemenag.go.id, dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah Al-Zuhaili menyebutkan, ada enam syarat orang wajib puasa Ramadan. Berikut syarat keenam orang yang wajib berpuasa Ramadan :
1. Beragama Islam. Perintah puasa Ramadan hanya tertuju pada umat Islam. Sementara orang-orang yang beragama non Islam, tidak terkena aturan wajib melaksanakan puasa Ramadan.
2. Orang yang sudah baligh. Oleh karena itu, anak kecil meskipun beragama Islam tidak wajib melakukan puasa Ramadan karena ia masih belum baligh.
Dalam beberapa kitab fikih, baligh biasanya diartikan sebagai batasan seseorang mulai dibebani berbagai kewajiban syariat, seperti sholat, puasa dan lainnya.
Secara umum, batasan baligh bagi laki-laki, jika sudah mengalami mimpi basah. Sedangkan bagi perempuan, jika telah haid. Namun, jika laki-laki dan perempuan tersebut belum mengalami mimpi basah atau haid, maka batas balighnya, yakni umur lima belas tahun.
3 Orang yang berakal. Oleh karena itu, orang yang tidak memiliki akal dan kesadaran penuh, seperti orang gila, orang mabuk dan orang ayan selama seharian penuh, tidak wajib melakukan puasa Ramadan.
Hanya saja, meski orang mabuk dan orang ayan tidak wajib puasa Ramadan, namun mereka mempunyai kewajiban mengqada puasa yang ditinggalkan, selama mereka mengalami ayan dan mabuk.
4. Orang yang menetap atau ikamah. Orang yang menetap atau tidak sedang berpergian dengan jarak bisa qasar salat, dia wajib puasa Ramadan.
Sebaliknya, orang yang berpergian dengan jarak sampai bisa qasar salat, maka dia tidak wajib puasa Ramadan.
Sementara orang yang berpergian dengan jarak sampai bisa qasar salat, maka dia tidak wajib puasa Ramadan.
Kendati orang yang sedang berpergian tidak wajib puasa, apabila dia berpuasa maka puasanya dinilai sah. Sebaliknya, jika dia tidak berpuasa, dia tidak berdosa. Hanya saja, dia wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya.
5. Orang yang mampu berpuasa atau sehat. Orang yang sehat dan mampu diwajibkan puasa Ramadan. Sedangkan orang yang sakit dan tidak mampu berpuasa, tidak wajib berpuasa.
Orang yang sakit atau tidak mampu karena sudah tua, mereka tidak wajib puasa tapi mereka wajib mengqadanya atau membayar fidyah.
6. Suci dari haid dan nifas.
Semoga bermanfaat. (Hadadi)***
Sumber : Dari Berbagai Sumber







