Ini Masjid Tertua di Sumedang, Menyimpan Sejarah Kelam Memilukan!

Masjid Besar Tegalkalong di Jalan Sebelas April No.21, Lingkungan Tegalkalong, Kelurahan Talun, Kec. Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, merupakan masjid tertua di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (Hadadi/BeritaSumedang.com)

BERITA SUMEDANG – Masjid Besar Tegalkalong yang terletak di Jalan Sebelas April No.21, Lingkungan Tegalkalong, Kelurahan Talun, Kec. Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, merupakan masjid tertua di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Bahkan masjid tersebut, termasuk ke dalam bangunan cagar budaya yang ditetapkan pemerintah pusat.

Selain usianya sudah tua yang dibangun zaman Kerajaan Sumedang Larang, masjid itu pun masjid bersejarah.

Menurut tokoh masyarakat yang juga mantan Ketua DKM Masjid Besar Tegalkalong, Bachren Syamsul Bahri, berdasarkan catatan sejarah, masjid itu dibangun pada masa pemerintahan Pangeran Rangga Gempol III atau Pangeran Panembahan (1656-1709).

Jika dihitung dari masa pemerintahan Pangeran Penembahan, berarti usia masjid kini sudah menginjak usia 366 tahun atau 3,66 abad lebih silam.

Dibangunnya masjid tertua di Kab. Sumedang itu, seiring dengan kepindahan pusat pemerintahan Sumedang ke-8 dari 11 kali kepindahan. Dari Tenjolaut, Kec. Conggeang yang dipimpin Pangeran Rangga Gempol II (Bagus Wenuh) (1633-1656), pindah ke Tegalkalong, Kec. Sumedang Utara yang pemerintahannya dilanjutkan oleh putranya Pangeran Panembahan.

“Sejarah Masjid Besar Tegalkalong ini, berdasarkan catatan sejarah yang ada di Museum Prabu Geusan Ulun (MPGU). Bangunan masjid ini dulunya berupa bestong (tembok sepotong) yang sebagian besar konstruksinya terbuat dari kayu,” tutur Bachren ketika ditemui di rumahnya di Jalan Sebelas April, Tegalkalong, Kel. Talun, Kec. Sumedang Utara, Kamis 14 April 2022.

Luas tanah masjid itu, seluas 5.080 meter persegi. Sedangkan bangunannya 2.400 meter persegi (40 x 60 meter). Status tanahnya, tanah wakaf.

Daya tampung masjid tersebut, mencapai 400 jemaah. Ada pun jumlah jamaah masjid kini sekira 100-150 orang.

Masjid Besar Tegalkalong dilengkapi berbagai fasililitas, antara lain tempat wudu, kamar mandi/WC, tempat penitipan sandal dan sepatu, kantor sekretariat, perpustakaan, koperasi masjid, taman dan tempat parkir.

Selain itu, perlengkapan pengurusan jenazah, toko dan ruang belajar, (TPQ/Diniyah/Takmiliyah), sound system dan multimedia, AC serta gudang.

Masjid kuno dengan bangunan klasik tersebut, memiliki ikon di bagian puncak atap gentingnya terdapat kubah kecil dengan atap bersusun sebanyak  tiga susun.

Masjid tertua ini, menjadi saksi bisu terjadinya tragedi berdarah dalam sejarah kelam perjalanan sejarah Sumedang. Dulu, saat pemerintahan Pangeran Panembahan, masjid ini pernah diserang oleh pasukan Kesultanan Banten hingga terjadi pertumpahan darah.

Bahkan dengan tragedi berdarah ini memunculkan mitos, bahwa pemimpin Sumedang enggan melaksanakan Sholat Idul Fitri pada hari Jumat di Masjid Besar Tegalkalong. Mitos ini berlangsung sampai sekarang.

Tragedi berdarah dalam perjalanan sejarah Masjid Besar Tegalkalong tersebut, terjadi pada masa pemerintahan Pangeran Rangga Gempol III atau Pangeran Panembahan (1656-1709).

Kala itu, kondisi keamanan di Kerajaan Sumedang Larang sedang rawan. Kerawanan tersebut, terutama rawan penyerangan dari arah barat, yakni Kesultanan Banten.

Menyadari hal itu, Pengeran Panembahan mengetatkan pengamanan dengan membentuk pasukan khusus yang disebut Pamuk. Pamuk terdiri dari 40 orang pamuk pilihan.

“Setiap pamuk, ditempatkan tersebar di beberapa daerah. Mereka diberi tanah carik (bengkok) untuk melindungi ibu kota pusat pemerintahan di Tegalkalong dari serangan musuh,” tutur Bachren.

Tak dinyana, lanjut dia, penyerangan musuh menjadi kenyataan. Serangan musuh terjadi ketika Pangeran Panembahan sedang melaksanakan Salat Idul Fitri yang jatuh pada hari Jumat, 18 November 1678.

Saat itu, Masjid Tegalkalong dikepung rapat. Selepas khutbah Idul Fitri, masjid langsung diserbu dari semua pintu. Pertumpahan darah pun tak terelakan.
“Pada Hari Raya Idul Fitri di Masjid Tegalkalong, menjadi ajang perkelahian hidup-mati,” ucapnya.

Namun, perkelahiannya tidak seimbang. Penyerbu dari Kesultanan Banten di bawah kepemimpinan Cilik Widara, menyerang dengan persenjataan lengkap dan jumlah pasukan yang besar.

Sementara jemaah Masjid Tegalkalong hanya melawan dengan tangan kosong. Bahkan jumlahnya seadanya.
“Karena tak seimbang, tak pelak korban berjatuhan di pihak jemaah masjid, termasuk para prajurit Pangeran Panembahan. Banjir darah pun tak terelakan,” tuturnya.

Bachren menyebutkan, yang gugur saat itu, antara lain Tumenggung Jaya Satru, Raden Dipa, Aria Santapura dan Mas Bayun. Sejumlah keluarga Pangeran Panembahan ditawan, seperti Raden Singamanggala, Raden Bagus, Raden Tanusuta.

Namun, dengan kekuasaan dan perlindungan Allah SWT, Pangeran Panembahan sendiri berhasil lolos dari kepungan dan menuju ke Indramayu.

“Itu lah tragedi berdarah yang memilukan di Masjid Besar Tegalkalong. Sholat Idul Fitri 1089 Hijriah yang jatuh pada hari Jumat 18 November 1678, tidak akan terlupakan dalam sejarah Masjid Besar Tegalkalong, Sumedang, sampai kapan pun,” ujarnya.

Ia mengatakan, Masjid Besar Tegalkalong dan makam para jemaah masjid serta prajurit yang gugur di daerah Talun, menjadi catatan sejarah yang memilukan saat itu. (Hadadi)***