Petani Padi di Kabupaten Bandung Mengeluh! Kenapa Ya?

Petani di Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung mengeluh, karena musim tanam padi kali ini tidak mendapat bantuan pupuk dan benih padi dari pemerintah. (Aje/BeritaSumedang.com)

BERITA SUMEDANG – Petani di Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung mengeluh.

Pasalnya, musim tanam padi kali ini tidak mendapat bantuan sarana produksi pertanian (saprodi) dari pemerintah. Bantuan itu, terutama pupuk dan benih padi.

Padahal, petani sangat membutuhkan bantuan saprotan tersebut,  disaat harga pupuk dan benih kini sedang melonjak.

Baca juga: Mantap! Senam Bedas Kabupaten Bandung Diperlombakan pada HUT RI

“Keluhan para petani mah banyak. Berak (pupuk), obat-obatan (pestisida) dan benih padi. Kalau hama tikus, walaupun ada tapi masih terkendali. Untuk pasokan air irigasi, normal,” ujar Oting (70).

Oting salah seorang petani di Kampung Babakan Dano, Desa Kopo, Kecamatan Kutawaringin ketika ditemui di lahan sawah garapannya di Desa Kopo, Kec. Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Kamis 1 September 2022.

Tak menerima bantuan pupuk

Ia mengatakan, sudah lama ia tidak menerima bantuan pupuk dari Dinas Pertanian Kab. Bandung.

Baca juga: Ki Daus dan Ceu Edoh Preman Pensiun, Bintang Tamu Lomba Karaoke HUT RI

Padahal, setahun lalu ia mengaku sempat mendapatkan bantuan pupuk urea dari Dinas Pertanian, melalui kelompok tani. Bantuan benihnya sekarung isi 50 kg.

“Tapi sekarang, tidak ada bantuan pupuk lagi. Padahal, para petani sangat membutuhkannya.

Apalagi sekarang, umur padi baru sebulan sudah waktunya menebar pupuk,” ujar Oting dengan tangan dan kaki penuh lumpur.

Menurut dia, kebutuhan pupuk makin mendesak, ketika petani merasa berat dengan kenaikan harga pupuk.

Baca juga: Sekopi Cinta, Sekolah Menggapai Cita-cita Petani

Harga pupuk jenis ponska dan ZA kini dibandrol Rp 135.000/ karung isi 50 kg. Sementara harga sebelumnya sekitar sebulan lalu, Rp 120.000/karung isi 50 kg.

“Makanya saat harga pupuk sekarang naik, para petani sangat membutuhkan bantuan pupuk dari Dinas Pertanian, seperti halnya tahun lalu,” katanya.

Tak hanya butuh bantuan pupuk saja, lanjut dia, termasuk bantuan benih padi.

Baca juga: Harga Cabai Melambung, Petani Tidak Terlalu Sumringah! Kenapa?

Akibat tidak ada bantuan benih dari Dinas Pertanian, terpaksa ia membeli benih padi di kios. Satu plastik isi 5 kg harganya Rp 80.000. Benih padinya jenis ciherang.

“Kalau sebelumnya suka ada bantuan benih padi dari dinas 10 kg. Tapi nggak tahu kenapa?, sekarang belum ada lagi bantuan.

Padahal, kita lagi membutuhkan. Cuma beberapa waktu lalu, ada petugas dari dinas yang memberikan bantuan vitamin untuk tanaman padi,” ucapnya.

Baca juga: BKC Ilegal Tembakau Sumedang Masih Tinggi, Erwan: Ini Rugikan Negara!

Usaha bertani terasa berat

Menyinggung kondisi usaha pertanian padi sekarang ini, Oting mengungkapkan, usaha bertani padi saat ini terasa berat.

Sudah harga pupuk, pestisida dan benih relatif mahal bahkan luput dari bantuan pemerintah, terlebih lagi harga gabah relatif murah. Harga gabah basah sekarang ini hanya Rp 450.000/kuintal.

“Kalau menghitung antara modal dengan penghasilan, plus- plos (seimbang). Itu pun modal yang dikeluarkan belum termasuk ongkos kerja. Jika dengan modal kerja, minus pak (rugi).

Baca juga: Innalillahi, Dalam Sehari Tiga Orang Petani Meninggal Dunia Seketika!

Saya menggarap lahan sawah 200 tumbak, seorang sendiri, tanpa muruhkan (memperkerjakan) orang lain.

Dari mulai mencangkul, menanam benih sampai panen. Jadi, ripuh bertani padi sekarang ini mah. Tidak menguntungkan dan menjanjikan,” ujar Oting mengeluhkan.

Ketika hendak mengonfirmasi,  Kepala Dinas Pertanian Kab. Bandung Aceng Tisna Umaran sedang tidak ada di kantor.

Baca juga: Wah Gawat! Kalau Tidak Ada Regenerasi, Petani akan Seperti Ini

“Pak kadisnya tidak ada, lagi rapat di luar kantor,” kata Satpam Dinas Pertanian. (Aje)***