Petani Sedikit Bernapas Lega Dengan Melambungnya Harga Cabai

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo didampingi Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir sedang memanen cabai rawit saat kunjungan kerja dalam rangka "Monitoring Ketersediaan Pasokan Cabai di Sentra-Sentra Produksi Cabai di Seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia menjelang Idul Adha 2022", sekaligus panen cabai bersama Kelompok Tani Mukti di Desa Sukawangi Kecamatan Pamulihan, Sabtu, (2/7/2022). (Aje/BeritaSumedang.com)
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo didampingi Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir sedang memanen cabai  bersama Kelompok Tani Mukti di Desa Sukawangi Kecamatan Pamulihan, Sabtu, 2 Juli 2022. (Aje/BeritaSumedang.com)

BERITA SUMEDANG – Petani cabai di Kabupaten Sumedang, kini sedikit bisa bernapas lega dengan melambungnya harga cabai.

Dari harga normal sebelumnya Rp 40.000/kg, kini melonjak tinggi hingga mencapai kisaran Rp 70.000 sampai Rp 75.000/kg.

Bahkan di Jakarta dan sekitarnya, lonjakan harga cabai fantastis hingga menembus Rp 100.000/ kg.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, lonjakan harga cabai tersebut imbas relatif banyak tanaman cabai yang gagal panen akibat cuaca musim hujan yang berkepanjangan atau La Nina.

Dampaknya, banyak tanaman cabai yang rusak bahkan busuk akibat pasokan air yang berlebih.

Namun demikian, kondisi itu disyukuri tidak terjadi di sentra pertanian cabai di Kab.Sumedang yakni di Desa Sukawangi, Kec. Pamulihan.

“Alhamdulillah, pertanian cabai di Sumedang tidak terimbas cuaca. Sekali pun ada, tingkat kegagalan panennya sangat kecil hanya sekira 1%, bahkan dianggap tidak ada masalah,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Sumedang, Sajidin ketika dihubungi melalui telefon di kantornya, Senin, 4 Juli 2022.

Dengan melambungnya harga cabai sekarang ini, lanjut dia, berkah bagi petani. Mereka kini sumringah karena bisa menikmati keuntungan yang lumayan besar dengan melambungnya harga.

Dari biaya produksi sekitar Rp 18.000/ kg, petani bisa menjual kisaran Rp 70.000 sampai Rp 75.000/ kg.

“Alhamdulillah, sekarang petani cabai di Sumedang bisa menikmati keuntungan dengan melambungnya harga cabai. Khusus petani cabai, memang cukup sejahtera. Namun, tak dipungkiri lonjakan harga itu memberatkan konsumen,” tuturnya.

Meski demikian, ada kelompok petani di Desa Sukawangi, Kec. Pamulihan bernama “Champion”, yang intens berkoordinasi dan berkomunikasi dengan kelompok petani cabai di luar Jawa Barat, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selain saling memasok hasil panen cabai, mereka juga saling berbagi informasi terkait perkembangan harganya.

Interaksi antar kelompok petani itu, secara tidak langsung ikut mengendalikan dan menyetabilkan harga sekaligus produksi cabai.

“Idealnya, pengendalian harga dan pasokan itu diatur oleh pemerintah pusat. Contohnya, kalau musim panen cabai diatur, tidak serempak. Sehingga, produksi dan harganya bisa stabil dan terkendali,” kata Sajidin.

Ia menyebutkan, pertanian cabai di Kab. Sumedang, ada di beberapa daerah. Akan tetapi, sentranya ada di Desa Sukawening, Kec. Pamulihan.

Lahan pertaniannya seluas 259 hektare. Jumlah petaninya mencapai ratusan meliputi 11 kelompok tani (poktan). Tanaman cabai yang dikembangkan yakni, cabai rawit, cabai kriting dan cabai besar.

Tingkat produktivitasnya pun cukup bagus. Dari kondisi normal rata-rata 7 ton/hektare, para petani di Desa Sukawening bisa memanen 10 ton/hektare.

“Alhamdulillah, kalau untuk komoditas cabai, Sumedang surplus. Pemasarannya, di antaranya mengisi pasaran Sumedang, ke Pasar Induk Caringin Bandung dan Jakarta,” tuturnya. (Aje)***