BERITA SUMEDANG – Bahu jalan yang ambrol akibat erosi terkikis banjir di Jalan Raya Banjaran-Soreang di Kp. Citaliktik, Desa Gandasari, Kecamatan Katapang, sudah 3 tahun lamanya tidak ada perbaikan oleh Dinas PUTR (Pekerjaan Umum dan Tata Ruang) Kab. Bandung.
Padahal, bahu jalan yang ambrol berbentuk lubang yang dalam tersebut, sangat membahayakan para pengendara.
Bahkan sudah sering dan banyak sepeda motor yang terperosok ke dalam lubang tersebut hingga luka-luka.
Bahu jalan yang ambrol itu ironis. Pasalnya, lokasinya sangat dekat dengan kantor Dinas PUTR Kab. Bandung. Jaraknya hanya sekitar 200 meter.
Bahkan lokasi bahu jalan yang ambrol itu, tepat di persimpangan atau pertigaan jalan masuk ke Mapolresta Bandung. Terlebih di depan lokasi itu pun, sebelumnya sering ada razia tilang kendaraan oleh Polresta Bandung.
Baca juga: Ruas Jalan Soreang-Banjaran di Persimpangan Polresta Bandung, Langganan Banjir
Yang ironisnya lagi, di lokasi bahu jalan tersebut, tidak ada satu pun rambu-rambu jalan untuk pengamanan, seperti halnya pemasangan road barrier atau besi gadril.
“Ada lah 3 tahunan, bahu jalan yang ambrol itu tidak pernah ada perbaikan oleh Dinas PUTR. Parahnya lagi, tidak ada pasangan rambu-rambu pengaman jalan. Padahal, kondisinya sangat berbahaya,” ujar Iwan (33) warga setempat yang rumahnya tepat di pinggir bahu jalan yang ambrol, Jumat, 9 Juni 2023
Sepeda motor sering terperosok
Menurut dia, ia pun merasa heran, kondisi bahu jalan yang ambrol separah itu, hingga kini tak kunjung ada perbaikan pemerintah.
Padahal, kondisinya sangat membahayakan para pengendara. Terlebih, pengendara sepeda motor sering jatuh terperosok ke lubang bahu jalan yang ambrol tersebut, terutama malam hari. Parahnya lagi, di lokasi itu gelap, tidak ada lampu PJU (penerangan jalan umum).
Baca juga: Warga Korban Banjir di Kabupaten Bandung Berharap Dapat Bantuan
“Walau pun belum sampai merengggut korban jiwa, tapi harus ada pencegahan, yaitu dengan segera memperbaikinya. Lebih baik mencegah sebelum terjadi. Jangan menunggu jatuh korban jiwa dulu,” ujar Iwan.
Ia mengatakan, bahu jalan yang ambrol itu, sepanjang 2 meter dengan lebar satu meter hingga berbentuk lubang yang dalam.
Yang bahayanya lagi, kedalamannya sekitar 5 meter hingga menyerupai jurang. Bahkan lubangnya, nyaris ke badan jalan.
Terkikis erosi
Ambrolnya bahu jalan tersebut, akibat tanahnya erosi dampak sering terkikis limpahan banjir cileuncang di ruas jalan tersebut. Kondisinya semakin parah, karena erosi tanahnya sudah lama tak ada penangangan
Baca juga: Banyak Berlubang, Jalan Panyingkiran Sumedang Rawan Kecelakaan
“Bahu jalan bisa ambrol separah ini karena dibiarkan terlalu lama. Jadi, ambrolnya tidak sekaligus, tapi tanahnya terkena erosi sedikit demi sedikit,” katanya.
Lebih jauh Iwan menjelaskan, karena kerusakannya parah sehingga harus dibangun permanen oleh pemerintah. Perbaikannya, bisa dengan membangun pondasi TPT (tembok penahan tanah), seperti halnya penanganan tebing yang longsor.
“Kalau seadanya, justru bisa membahayakan. Dilindas mobil saja bisa hancur, kalau tidak memakai dulu pondasi atau TPT di bawahnya,” ujarnya.

Hal senada dengan warga Kampung Citaliktik lainnya, Risal (19). Ia mengatakan, dirinya pun selalu cemas karena rumahnya berada di dekat lokasi tersebut.
Takut bahu jalan yang ambrol itu semakin parah hingga terbawa longsor. Apalagi ketika hujan besar dan banjir yang menggenangi ruas Jalan Banjaran- Soreang.
“Saya juga takut kalau lagi hujan dan banjir. Takut, bahu jalan yang ambrol ini longsor hingga mengancam rumah saya,” tuturnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, dirinya minta pemerintah segera memperbaiki bahu jalan yang ambrol tersebut. “Minimal, Dishub atau Polresta memasang rambu-rambu tanda bahaya dulu untuk mencegah kecelakaan,” ujarnya.
Mengonfirmasi di kantornya, Kepala Dinas PUTR Kab. Bandung, Zeis Zultaqawa sedang tidak ada di kantor.
“Pak kadisnya tidak ada di kantor. Kalau pak kabid, lagi ke lapangan,” ujar petugas penerima tamu di kantor Dinas PUTR Kab. Bandung. (Aje)***







