Waduh, Setiap Tahunnya Sumedang Kota Tahu Mesti Memasok Kedelai Impor 5.320 Ton! Ini Ulasannya

Sumedang Kota Tahu setiap tahunnya harus memasok kedelai impor 5.320 ton untuk memenuhi kebutuhan kedelai para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Sumedang.(foto: balitkabi.litbang pertanian.go.id)

BERITA SUMEDANG – Sumedang kota tahu. Akan tetapi, bahan baku kedelainya masih menggantungkan impor.

Padahal, Kabupaten Sumedang sebagai daerah yang punya brand yang sangat kuat dari dahulu kala yakni “tahu sumedang”, tentunya banyak para perajin dan pengusaha tahu sumedang yang sangat menbutuhkan pasokan kedelai yang melimpah dengan harga terjangkau. Bahkan di Kabupaten Sumedang, tak sedikit pula perajin tempe.

Mengingat banyak perajin dan pengusaha tahu sumedang dan tempe, otomatis bahan baku kedelai menjadi kebutuhan pokok dan paling utama.

Dari data yang berhasil dihimpun BeritaSumedang.com dari berbagai sumber, kebutuhan kedelai di Kabupaten Sumedang terutama untuk memasok para perajin tahu dan tempe mencapai rata-rata 7.300 ton per tahun.

Namun, sayangnya dari kebutuhan sebanyak itu, baru terpenuhi dari produksi kedelai lokal hasil panen petani Sumedang hanya 1.980 ton per tahun.

Berarti, ada kebutuhan kedelai sebanyak 5.320 ton per tahun yang belum dipenuhi oleh produksi kedelai lokal Sumedang.

Akibatnya, para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Sumedang harus mengimpor kedelai untuk menutupi kekurangannya.

Apalagi, harga kedelai impor dirasakan mahal dan memberatkan ongkos produksi para peraji tahu dan tempe.

Seperti di daerah lainnya, untuk memenuhi kebutuhan kedelai para perajin tahu dan tempe di daerahnya, Sumedang juga harus impor kedelai dari Amerika Serikat sebesar 5.320 ton per tahun.

Untuk mengatasi ketergantungan impor kedelai di kota tahu itu, Koperasi Produsen Pemuda Mandiri Sumedang, meminta bantuan Pemkab Sumedang untuk memasilitasi pemanfaatan lahan di sekitar Waduk Jatigede untuk ditanami kacang koro. Kacang koro tersebut sebagai pengganti bahan baku kedelai.

“Rencananya, lahan tersebut akan ditanami komoditas unggulan berupa kacang koro sebagai solusi dari ketergantungan impor kacang kedelai,” ujar Ketua Koperasi Produsen Pemuda Mandiri Sumedang, Slamet Prihadi saat beraudiensi dengan Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan di ruang kerja wabup, Rabu, 9 Maret 2022.

Ia mengatakan, kacang koro dapat mensubtitusi kacang kedelai yang setiap tahunnya Indonesia mengimpor dari Amerika dan Brazil sebesar Rp 17 triliun.

“Apabila panen kacang koro di Sumedang mampu mencukupi untuk kebutuhan Sumedang saja, ini sudah luar biasa,” kata Slamet.

Ia menyebutkan, lahan di Waduk Jatigede milik Kementerian PUPR atau BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Cimanuk- Cisanggarung yang luasnya 1.050 hektar itu, bisa dimanfaatkan untuk pemanfaatan kacang koro dengan pola Intergrated Farming System atau kawasan pertanian terpadu.

Oleh karena itu, pihaknya sangat berharap Pemkab Sumedang dapat membantu memasilitasi permohonan pemakaian lahan tersebut kepada Kementerian PUPR atau BBWS Cimanuk-Cisanggarung.

“Harapan kami, atas nama Pemerintah Kabupaten Sumedang bisa memohonkan lahan milik BBWS untuk dikelola OTD Jatigede,” ujarnya. (Joe)***