TAHUN 2019 lalu, Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, seperti kejatuhan durian runtuh. Ruas jalan kabupaten dari mulai kantor Desa Citengah sampai ke Kampung Cisoka di kawasan perkebunan teh Margawindu sepanjang 9,4 Km yang asalnya rusak parah dan terjal, jadi bagus dan kokoh dicor beton.
Tak ayal, yang tadinya pengunjung lokal yang sengaja “niis” ke perkebunan teh sedikit, lambat laun bertambah banyak.
Tak jarang pengunjung lokal yang didominasi kalangan remaja, terlihat konvoi sepeda motor. Tak terlewatkan, remaja yang berpacaran.
“Nah, sejak jalannya bagus dicor beton, wisata perkebunan teh Cisoka, lambat laun mulai ramai,” ujar Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Citengah, Muhammad Sukri dihubungi di Desa Citengah, Minggu, 8 Mei 2022.
Melihat banyak pengunjung yang datang, warga memanfaatkannya dengan membangun warung-warung di pinggir jalan di sepanjang jalan menuju ke dataran tinggi perbukitan perkebunan teh yang berhawa sejuk.
Bahkan pengunjung melewati kawasan hutan lindung BKSDA yang rindang, membuat rekreaksi semakin nyaman dengan pemandangan alam yang natural.
Pantauan “BeritaSumedang.com” di lapangan sebelumnya, setahun jalan dicor beton, perkebunan teh Cisoka menjadi tempat indah dan sejuk untuk wisata dan refreshing.
Bak jamur di musim hujan, warung pun mulai marak jlug-jleg di sepanjang jalan. Pedagang mengais rezeki dari kedatangan pengunjung. Singkat cerita, wisata Citengah-Cisoka, prospektif!
Melihat cuan yang menjanjikan, para pemodal dan pengusaha besar tak terkecuali pejabat, tergiur hingga ikut-ikutan berbisnis wisata juga.

Cuma disesalkan, dengan modal besar mereka dengan bebasnya mendirikan saung resto, villa, tempat selfi bahkan wahana flaying fox di area perkebunan teh.
Sampai-sampai, ada yang berani membangun sejumlah saung tempat makan dengan membabat habis tanaman teh yang cukup luas. Ada juga yang membagun villa lengkap dengan kolam peperahuan, juga membabat tanaman teh.
Dari kejauhan dan ketinggian, lokasi sejumlah tempat itu tampak berada di tengah-tengah perkebunan teh. Padahal, sejatinya perkebunan teh itu, tanah milik negara eks HGU (Hak Guna Usaha). Bahkan berfungsi sebagai daerah resapan air
Meski status lahannya belum jelas, apakah masih HGU perkebunan swasta atau sudah dikembalikan negara? mereka dengan bebasnya membangun tanpa izin. Tak ayal, sejumlah bangunan itu, disebut bangunan liar hingga sempat diberi peringatan Satpol PP.
Seolah tak mempan oleh aparat, bangunan liar itu bukannya hilang dibongkar, malah lebih bagus dan usahanya makin maju, tanpa memperdulikan kerusakan dan dampak lingkungan yang diperbuatnya.
“Di tengah ketidakjelasan status lahannya, terjadi jual beli lahan garapan. Apalagi waktu itu, lahannya masih murah,” kata Sukri.
Disingggung tentang bencana alam banjir bandang yang terjadi dua kali hingga merenggut korban jiwa dalam dua tahun terakhir ini, apakah ada kaitan dengan banyaknya alih fungsi lahan, Sukri mengatakan, dari dulu Desa Citengah termasuk zona rawan bencana.
Tahun ’78 dan ’81, sudah ada banjir bandang. Selain merendam pesawahan, rumah warga, juga kerbau dan ternak lainnya ikut terbawa hanyut.
“Jadi, banjir bandang di Citengah itu sudah biasa. Cuma sekarang, terjadi perubahan alam. Tak beda dengan di Lembang dan daerah lainnya.
Padahal, perkebunan teh Cisoka dan hutan BKSDA, merupakan daerah resapan air. Makanya, setiap pendirian bangunan harus ada kajian Amdal. Ini yang tidak ditempuh, termasuk perizinan lainnya,” katanya.
Menurut Sukri, terjadinya bencana banjir bandang tersebut, harus menjadi pembelajaran dan evaluasi bagi pemda, instansi serta pihak lainnya. Mereka harus lebih fokus lagi memperhatikan pentingnya mitigasi bencana serta menjaga kelestarian alam dan lingkungan.
Pemerintah juga, lanjut dia, harus menyosialisasikan dan menerapkan aturan dengan jelas dan tegas secara tertulis supaya masyarakat paham, mana yang boleh dibangun dan yang tidak.
“Dengan kejadian ini, semua pihak harus saling intropeksi diri. Sebab, dengan maraknya pembangunan wisata sekarang ini, kerugian dampak lingkungannya jauh lebih besar ketimbang kepentingan ekonominya,” tuturnya.
Ia menambahkan, dengan kejadian itu, pemerintah juga harus membantu menumbuhkan kembali pembangunan dan daya tarik wisata Desa Citengah.
Sebab, dengan bencana ini, pengaruhnya negatif untuk kunjungan wisata. Para pengunjung jadi takut berwisata lagi ke Citengah, “Tumbuhkan kembali wisata di Citengah,” ujar Sukri.
Disinggung hal itu, Sekda Kab. Sumedang Herman Suryatman yang juga ex officio Kepala BPBD Kab. Sumedang mengatakan, pascabanjir bandang Citengah, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengintruksikan melalui Surat Keputusan Bupati tentang “Tim Transisi Mitigasi Bencana dan Pemulihan Ekonomi Kepariwisataan di Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan”.
Tugas tim itu, kata dia, ada dua. Pertama, memonitor sekaligus mengendalikan mitigasi bencana di kawasan wisata khususnya di Desa Citengah. Kedua, mendorong pemulihan ekonomi kepariwisataan di Citengah.
Lebih jauh Herman menjelaskan, langkah mitigasi bencana, yakni menurunkan kerentanan bencana dan mengurangi risiko bahaya bencana.
Ada dua faktor terjadinya bencana alam, yakni faktor alam dan manusia. Contoh faktor alam, cuaca ekstrem harus diwaspadai. Sedangkan faktor manusia, di antaranya jangan menebang pohon, mendirikan bangunan liar sembarangan, menjaga lingkungan, dan lain-lain.
“Tangan-tangan jahil manusia yang merusak lingkungan pasti ada saja. Itu yang harus diedukasi. Jangan sampai membangun sembarangan, menebang pohon dan tindakan lainnya yang bisa merusak lingkungan,” tuturnya.
Untuk menumbuhkan kembali ekonomi kepariwisataan, kata dia, di antaranya memproses semua perizinan wisata.
Selain itu, menyiapkan berbagai langkah mitigasi bencana di setiap tempat wisata. Salah satunya, menyiapkan lifeguard atau satgas khusus bencana.
“Ada 16 item standar mitigasi bencana yang mesti dipenuhi semua tempat wisata. Contoh harus ada tempat titik kumpul, termasuk lifeguard. Jadi, semua tempat wisata wajib memenuhi 16 item itu. Upaya lainnya, di setiap desa rawan bencana dibentuk desa tangguh bencana, seperti halnya di Desa Citengah ini, ” ujar Herman.
Ia mengimbau, dengan kejadian bencana itu, semua pihak dan unsur harus duduk bersama mencari solusi terbaik agar mitigasi bencana terjaga, ekonomi kepariwisataannya pun tetap tumbuh.”Cari solusi, jangan saling menyalahkan,” ucap Herman. (Adang Jukardi/BeritaSumedang.com)***







