Nama Sumedang Berasal dari Kata? Ini Penjelasannya

Kereta Naga Paksi yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumedang, tampak menghiasi dan memeriahkan acara Kirab Panji Helaran Keraton Sumedang Larang yang merupakan rangkaian memperingati Hari Jadi Sumedang di halaman gedung Srimanganti, beberapa waktu lalu. (Joe/BeritaSumedang.com).

BERITA SUMEDANG – Penamaan Sumedang,  tak lepas dari sejarah berdirinya Kerajaan Sumedang Larang.

Kerajaan Sumedang Larang sendiri, didirikan tahun 721 Masehi oleh Prabu Tadjimalela di wilayah bekas Kerajaan Tembong Agung.

Kerajaan ini bagian dari Kerajaan Sunda dan Galuh antara abad ke-8 sampai ke-16 Masehi. Saat berdiri, Ibu kotanya di Citembong Girang yang kini berada di wilayah Desa Cikeusi, Kec. Darmaraja, Kab. Sumedang.

Dimasa kepemimpinannya, Prabu Tadjimalela sempat berkata “Insun Medal, Insun Madangan”. Artinya, “aku dilahirkan, aku menerangi” atau “aku dilahirkan untuk menerangi”.

“Perkataan itu lah yang menjadi cikal bekal lahirnya Kerajaan Sumedang Larang termasuk nama Sumedang,” ujar Ketua Yayasan Nazhir Wakap Pangeran Sumedang Luky Djoehary Soemadilaga ketika ditemui di gedung Srimanganti, Museum Prabu Geusan Ulun (MPGU), Sumedang, beberapa waktu lalu.

Ia menyebutkan,  ada beberapa pendapat dalam penamaan Sumedang. Ada yang menyebutkan, bahwa nama Sumedang berasal dari kata “Insun Madangan” yang berubah pengucapannya menjadi “Sun Madangan” hingga menjadi Sumedang.

Pendapatan lainnya, Sumedang berasal dari kata “Insun Medal” yang pengucapannya berubah menjadi Sumedang. Sedangkan Larang, berarti tidak ada tandingannya.

“Insun Medal Insun Madangan ini, menjadi filosofi sunda yang memiliki nilai-nilai luhur hingga dijadikan motto Kab. Sumedang,” tutur Luky.

Sementara arti Sumedang Larang sendiri, lanjut dia, yakni daerah yang sangat bagus yang tiada bandingannya. Kesuburannya, kemakmurannya hingga keindahan alamnya. “Termasuk bagus ajarannya yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan,” katanya

Lebih jauh Luky menjelaskan, pada tahun 1578 Masehi, Pangeran Angkawijaya menerima mahkota Kerajaan Pajajaran yakni Mahkota Sang Hyang Pake Binokasih sekaligus dinobatkan menjadi Raja Sumedang Larang dengan Gelar Prabu Geusan Ulun.

Mahkota kebesaran Pajajaran itu, diserahkan oleh Senopati Kerajaan Pajajaran yang dikenal empat Kandaga Lante. Mereka, antara lain Batara Sang Hyang Hawu atau Embah Jaya Perkosa, Batara Pancar Buana atau Terong Peot, Batara Dipati Wiradijaya atau Nangganan dan Batara Sang Hyang Kondang Hapa. “Penyerahan Mahkota Binokasih ini, memiliki arti sangat penting,” ucapnya.

Ia mengatakan, dengan penyerahan mahkota kepada Prabu Geusan Ulun, menandakan Kerajaan Sumedang Larang menjadi penerus yang sah Kerajaan Pajajaran sebagai kerajaan sunda terbesar di Pulau Jawa.

“Mahkota ini simbol tertinggi Kerajaan Pajajaran, ketimbang dua benda lainnya, yakni Batu Gilang di Banten dan Singasana (kursi raja) di Cirebon,” tuturnya.

Ia menambahkan, ada pun wilayah Kerajaan Sumedang Larang, meliputi wilayah Kerajaan Pajajaran, yakni dibatasi Laut Jawa di utara, Sungai Cipamugas di Barat, Samudra Hindia di selatan dan Sungai Cipamali di timur (daerah Berebes).

“Kerajaan Sumedang Larang merupakan kerajaan sunda terakhir penerus Kerajaan Pajajaran yang runtuh,” katanya. (Joe)***