Mengapa? Rasanya Putus Cinta Begitu Menyakitkan, Ini Alasannya.

Putus cinta atau patah hati begitu menyakitkan, Sains memberikan jawabannya. (Foto pixabay.com)

BERITA SUMEDANG – Rasanya Putus cinta atau patah hati begitu menyakitkan, hal itu dapat memicu luapan emosi negatif hingga terasa secara fisik.

Berdasarkan penelitian, emosi negatif tersebut akibat pengaruh dari hormon. Antara lain, peningkatan hormon stres kortisol, adrenalin dan noradrenalin, serta penurunan hormon bahagia serotonin dan oksitosin dalam tubuh.

Putus Cinta

Melansir dari Antaranews.com, pakar kesehatan Dr. Deborah Lee seorang penulis artikel di Dr Fox Online Pharmascy menjelaskan mengenai putus cinta.

Baca juga: Tahun Ini! Netflix Hadirkan Tayangan One Piece Live Action

“Ketika putus cinta, kadar oksitosin dan dopamin turun, sementara pada saat yang sama ada peningkatan kadar salah satu hormon yang bertanggung jawab atas stres yakni kortisol,” jelasnya.

Menurutnya, tingkat kortisol yang meningkat ini dapat berkontribusi pada kondisi seperti tekanan darah tinggi, penambahan berat badan, jerawat, dan peningkatan kecemasan.

Selain itu, penolakan sosial, seperti putus dengan pasangan, juga mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan rasa sakit fisik, menurut sebuah studi tahun 2011 dalam jurnal Biological Sciences.

Sementara itu, Psikolog klinis Eric Ryden menuturkan efek neurobiologis patah hati bisa sedemikian rupa sehingga disamakan dengan rasa sakit fisik.

Baca juga: Anime Jujutsu Kaisen Season 2, Resmi Tayang Juli 2023.

Sebagaimana hal tersebut, menurut Eric terbukti pada gejala fisik seperti nyeri dada dan serangan panik, dan merasa terpukul.

“Patah hati tampaknya melibatkan beberapa mekanisme saraf yang sama dengan rasa sakit fisik,” tutur dia.

Kemudian, dia menjelaskan sistem saraf simpatik dan parasimpatis yang biasanya mengimbangi satu sama lain dapat aktif selama patah hati.

Dengan demikian, sistem saraf simpatik bertanggung jawab atas respons perlawanan tubuh, sehingga mempercepat detak jantung dan pernapasan.

Sementara, menurut Mayo Clinic Neurology Board Review mengatakan sistem saraf parasimpatis bertanggung jawab atas tubuh saat istirahat.

Mengaktifkan Dua Sistem Saraf

Namun Deborah Lee menambahkan, hormon yang dilepaskan saat patah hati mengaktifkan dua bagian sistem saraf ini.

Sehingga, otak dan jantung yang merespons menjadi bingung karena menerima pesan yang campur aduk.

“Hal ini bisa mengakibatkan gangguan pada aktivitas listrik jantung, dengan variabilitas detak jantung yang lebih rendah,” kata Lee.

Baca juga: Pemeran Tess di Video Gim ‘The Last of Us’ Annie Wersching, Meninggal Dunia pada Usia 45 Tahun

Hal itu, seringkali orang dengan variabilitas detak jantung rendah akan menunjukkan gejala seperti kelelahan, kecemasan, depresi, dan kurang tidur.

Variabilitas detak jantung dapat digunakan untuk menilai keadaan klinis pada pasien depresi, menurut makalah tahun 2019 dalam Frontiers in Psychiatry. (Uki)***