BERITA SUMEDANG – Kerajaan Sunda yang selanjutnya menjadi Kerajaan Pajajaran di Bogor, ajaran agamanya sudah menerapkan nilai-nilai Tauhid atau Tuhan yang satu (monotheis).
Hal itu, berdasarkan Folklore (cerita rakyat secara turun temurun). Dibuktikan pula dengan keberadaan berbagai situs, seperti halnya situs punden berundak. Hanya saja, sayangnya banyak situs yang hilang, kecuali situs Makam Prabu Guru Aji Putih yang tenggelam dalam pembangunan megaprojek Waduk Jatigede.
“Bahkan ajaran Tuhan yang satu, sudah diajarkan sejak zaman Prabu Aji Putih,” kata Ketua Yayasan Nazhir Wakap Pangeran Sumedang Luky Djoehary Soemadilaga ketika ditemui di gedung Srimanganti, Museum Prabu Geusan Ulun (MPGU), Sumedang, beberapa waktu lalu.
Menutur dia, ajaran Monotheis yang dianut Kerajaan Sunda, sangat toleran terhadap agama dan kepercayaan lainnya. Seperti halnya Agama Hindu yang berkembang saat itu.Akan tetapi, Kerajaan Sunda termasuk Sumedang Larang, saat itu tidak memeluk Agama Hindu.
Justru, lanjut Luky, dari hasil penelitian dan penelusuran sejarah, Prabu Guru Aji Putih sendiri sudah menerapkan nilai-nilai filosofi seperti yang diajarkan Islam.
Tandanya, di daerah Leuwihideung, Darmaraja, terdapat Gunung Masigit. Selain itu juga, salah satu peninggalan benda pusaka yang menjadi koleksi MPGU yakni Pedang Ki Mastak, bentuknya mirip pedang Arab. “Jadi, ajaran Sunda dan ajaran Islam itu matching, mempunyai kesamaan,” tuturnya.
Baru secara syariat, Kerajaan Sumedang Larang betul-betul sudah memeluk Agama Islam, ketika dipimpin Pangeran Santri dan anaknya Pangeran Angkawijaya atau lebih dikenal Prabu Geusan Ulun.
“Hal itu, sehubungan Pangeran Santri dan Prabu Geusan Ulun pernah belajar Islam di pesantren. Agama Islam mulai berkembang di wilayah Kerajaan Sumedang Larang di masa Pemerintahan Pangeran Santri (1530-1578),” kata Luky.(Joe)***







