BERITA SUMEDANG – Pernahkah Anda membayangkan, larva lalat bisa menjadi sumber energi terbarukan? Mendengar kata lalat saja, justru kita mungkin langsung merasa jijik dan membayangkan tempat kotor yang banyak dihinggapi makhluk tersebut serta menjadi sumber penyakit.
Namun, ada satu jenis lalat yang tidak perlu kita benci, yaitu Black Soldier Fly (BSF) yang dikenal dengan nama latin Hermetia illucens. Lalat BSF ini memberikan solusi ramah lingkungan dengan kemampuannya dalam mengonversi limbah organik tanpa menularkan penyakit. Bahkan lalat tersebut, sangat potensial menjadi bahan baku terbarukan, terutama biodiesel.
Ukuran lalat BSF, memang sedikit lebih besar dari lalat biasa, sekitar 15-20 mm. Lalat BSF dewasa, biasanya hanya berfokus pada reproduksi. Sementara pada fase larva, berperan dalam ekosistem melalui konversi limbah.
Larva BSF ini, bagaikan tim pembersih yang tak kenal lelah. Larvanya mampu melahap limbah organik dengan cepat, mengubahnya menjadi sumber energi terbarukan yang bermanfaat.
Baca juga: Bank Sampah akan Hadir di Tiap Kecamatan di Sumedang
Larva BSF mampu mengurangi volume limbah organik hingga 50 persen dalam waktu kurang dari dua minggu. Melalui sistem pencernaannya, larva BSF dapat menghancurkan bahan organik dan mengubahnya menjadi biomassa yang kaya akan lipid.
BSF sebagai Sumber Biodiesel Berkelanjutan
Salah satu keunikan larva BSF, yakni kandungan nutrisinya yang sangat tinggi. Larva lalat ini dapat dijadikan sebagai sumber pakan bernutrisi tinggi. Hal itu, seperti yang banyak dilakukan di Desa Bener, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap. Sayangnya, potensi larva ini belum dimanfaatkan sepenuhnya.
Selain mengandung protein sebagai pakan kaya nutrisi, larva lalat BSF ini pun mengandung lipid, yaitu senyawa yang menjadi sumber utama untuk produksi biodiesel yang ditemukan melimpah pada larva BSF. Larva BSF mengandung 29-45 persen protein, 17-49 persen lipid, 6-15 persen abu dan 8-12 persen air.
Berdasarkan data produktivitas larva lalat BSF, diketahui 1 gram telur BSF dapat menghasilkan 3-4 kg larva. Setelah dua bulan, larva tingkat lanjut dapat meningkat sekitar 50 kali lipat dari generasi pertamanya. Hal ini menunjukkan, lalat BSF memiliki siklus yang berlangsung cepat, sehingga biomassa larvanya berpotensi dimanfaatkan menjadi biodiesel.
Baca juga: Biodigester Mampu Mengolah 1 Ton Sampah Organik
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif berbahan dasar minyak nabati atau hewani yang bisa digunakan sebagai energi pengganti minyak bumi untuk kendaraan bermesin diesel. Di Indonesia masih mengandalkan minyak sawit sebagai bahan baku utama biodiesel yang berpotensi menyebabkan deforestasi jika digunakan berlebihan.
Dengan beralih pada minyak hewani seperti dari larva lalat BSF, sumber bahan baku yang digunakan tidak mengganggu sektor pangan. Bahkan dapat dihasilkan lebih cepat karena siklus hidup lalat BSF yang singkat.
Proses Produksi Biodiesel dari BSF

Proses produksi biodiesel, meliputi reaksi kimia yang terdiri dari pencampuran antara pelarut alkohol dengan minyak nabati atau hewani dan katalis yang dinamakan reaksi transesterifikasi.
Larva lalat BSF dikeringkan dengan penjemuran ataupun dengan oven. Larva BSF yang sudah dikeringkan, lalu dihaluskan terlebih dahulu sebelum dilakukan proses ekstraksi untuk mendapatkan lipidnya. Lipid, yaitu kandungan minyak yang akan menjadi bahan dasar biodiesel.
Baca juga: Pemkab Sumedang Jajaki Kerja Sama Pengelolaan Sampah dengan Denmark
Lipid yang telah diekstrak, siap digunakan dalam reaksi transesterifikasi. Proses reaksi ini dapat dilakukan dengan mencampurkan lipid dari larva BSF, pelarut dan katalis pada sebuah tangki berpengaduk dengan suhu berkisar 60-65°C.
Selama reaksi, biasanya dilakukan pengadukan. Semakin tinggi dan lama pengadukan yang dilakukan, semakin tinggi pula perolehan biodiesel yang didapatkan.
Hasil dari reaksi kimia ini, berupa biodiesel dan gliserol yang perlu dipisahkan karena merupakan produk samping dari reaksi yang ada. Biodiesel yang lebih murni dapat diperoleh cukup dengan mencuci biodiesel tersebut dengan air. Pengotor lainnya yang tidak diinginkan, akan terbawa air.
Inovasi Katalis Ramah Lingkungan untuk Biodiesel
Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diketuai Dr. Muhammad Yusuf Abduh, biodiesel yang dihasilkan dari BSF, lebih ramah lingkungan jika dilakukan dengan menggunakan katalis dari mikroba. Seperti halnya Rhizopus oryzae yang menghasilkan enzim lipase dan proses yang simultan dengan bantuan pelarut metil asetat.
Baca juga: Wisata Bersuka Cita, Alam Lingkungan Merana, Ancaman Bencana Melanda!
Dengan inovasi tersebut, biodiesel dapat dihasilkan tanpa melalui proses ekstraksi lipid terlebih dahulu. Larva BSF kering, dapat langsung digunakan dan dicampurkan dengan katalis dan pelarut. Sebab, kemampuan pelarut metil asetat yang mampu mengekstraksi lipid sekaligus mengonversinya menjadi biodiesel.
Hasil penelitian ini, menunjukkan kombinasi antara enzim lipase dari biokatalis R. oryzae dengan pelarut metil asetat, menghasilkan biodiesel yang baik tanpa dihasilkannya gliserol, yakni produk samping dari reaksi kimia biodiesel konvensional.
Proses ini menghasilkan triasetin yang tidak perlu dipisahkan dari biodiesel karena justru akan meningkatkan kualitasnya. Inovasi ini, menghilangkan kebutuhan untuk memisahkan gliserol dan menggunakan biokatalis yang lebih ramah lingkungan dari pada katalis kimia konvensional.
Tim peneliti berharap, produksi biodiesel berbasis enzim ini, dapat dikembangkan lebih lanjut agar menghasilkan biodiesel dengan kualitas yang lebih baik dan ramah lingkungan. Hal itu, untuk mengganti penggunaan bahan bakar fosil saat ini.
Baca juga: Penerimaan Mahasiswa Baru 2023, Dapat Gunakan Hasil Tes Nasional Untuk Masuk PTN Jalur Mandiri
Dengan pengembangan lebih lanjut, biodiesel dari sumber non-pangan ini memiliki potensi untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan.
Dengan berbagai manfaat yang ditawarkan BSF sebagai sumber biodiesel, langkah ini tak hanya mengubah paradigma energi di Indonesia, melainkan juga membawa kita lebih dekat ke masa depan yang berkelanjutan. (Penulis: Najwa Naila Salsabila/Peneliti ITB)***







