STUDY tour ke tempat pariwisata, identik bahkan lebih banyak kegiatan pikniknya ketimbang belajarnya.
Biasanya sekolah yang menyelenggarakan kegiatan itu dengan mengikutsertakan para siswanya.
Pun dengan sekolah-sekolah di Kabupaten Sumedang. Pelaksanaan studi tour-nya kerapkali berlokasi di sejumlah tempat wisata.
Daerah wisata favorit untuk study tour, paling sering ke Pangandaran atau Yogyakarta.
Baca juga: Kasat Narkoba Ditangkap Bareskrim Diduga Sindikat Pengedar Narkoba
Study tour ke Pangandaran, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berekreasi di pantai.
Kalau di Yogyakarta, seringnya berbelanja di Malioboro, membeli oleh-oleh bakpia pathuk.
Termasuk hunting batik sekaligus memborong t-shirt atau kaos merek terkenal di Yogyakarta.
Itu lah kebiasaan study tour di Sumedang yang menggelitik dr. Rahmatullah Sidik sebagai dokter assesor Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sumedang.
Baca juga: Irjen Teddy Minahasa Ditangkap Terkait Kasus Narkoba
Ia juga menjabat di Dinas Kesehatan Kab. Sumedang sebagai Kasi Pelayanan Kesehatan Primer dan Tradisional.
Tantang study tour ke panti rehab narkoba
Kenapa study tour di sekolah di Kab. Sumedang menggelitiknya? Sebab, ia mempunyai konsep dan format lain dengan pemilihan lokasi study tour.
Bahkan dr. Rahmatullah tak canggung menantang pihak sekolah maupun pihak Dinas Pendidikan, untuk mengubah lokasi tempat studi tour yang lebih bermanfaat dan efektif.
Baca juga: Maraknya Kenakalan Remaja, Pemkab Sumedang Gelar Kewaspadaan Dini
Hal itu, untuk menunjang pembelajaran sekaligus menambah ilmu dan pengalaman bagi para siswa.
“Saya tantang, bisa enggak pihak sekolah termasuk bapak pendidikan (kepala dinas-red) di Kab. Sumedang tidak studi tour ke Pangandaran atau Yogyakarta?
Akan tetapi, study tour ke tempat rehabilitasi para pecandu narkoba di Lido, Bogor!.
Baca juga: Polres Sumedang Bongkar Jaringan Pengedar Sabu, Ini Para Tersangkanya!
Hadirkan para pelajar atau anak-anak remaja seusia sekolah SMA, untuk melihat langsung kondisi para pasien pecandu narkoba di panti rehab,” ujarnya.
Para siswa, lanjutnya, bisa melihat dan ngobrol langsung dengan para pasien pecandu narkoba, tentang dampak langsung bahaya narkoba.
Hal itu, menjadi bahan pembelajaran bagi para pelajar atau remaja untuk tidak coba-coba, bahkan jangan pernah mengonsumsi narkoba.
Sebab, efek buruk narkoba bisa merusak kesehatan dan merusak masa depan serta cita-cita mulia mereka.
Terlebih para pemakai narkoba di Sumedang, awalnya karena terbujuk ajakan dan coba-coba.
“Saya tantang, tapi sampai sekarang belum ada pihak sekolah di Sumedang yang berani!” ujar dr. Rahmatullah.
BNNK Sumedang
Ia katakan itu pada “Workshop Penguatan Kapasitas kepada Insan Media untuk Mendukung Kota Tanggap Ancaman Narkoba tahun 2022”.
Baca juga: Perintah Kapolda! Polres Sumedang Ringkus Bandar Judi Togel Online
Acara BNNK Sumedang itu bertempat di aula rapat Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor, Sumedang, Kamis, 20 Oktober 2022 lalu.
Para pesertanya para wartawan Sumedang dari berbagai media, baik cetak, elektronik maupun online.
Acara itu secara resmi dibuka langsung oleh Kepala BNNK Sumedang AKBP Hery Sudrajat.
Selain dr. Rahmatullah Sidik, hadir para nara sumber lainnya, antara lain Kepala Badan Kesbangpol Kab. Sumedang Asep Tatang Sujana.
Baca juga: Penjual Ganja Kemasan Biskuit di Ringkus Polisi
Selain itu, Kasi Pidum Kejari Sumedang Ahmad Dice, SH dan Dekan Fikom Unpad Dr. Dadang Rahmat Hidayat.
dr. Rahmatullah menuturkan, study tour para pelajar ke tempat rehabilitasi itu, mengadopsi sejumlah sekolah di Jakarta.
Saat ia bekerja di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bunga Rampai Jakarta, sempat kedatangan rombongan para pelajar satu bus sengaja study tour ke RSJ tersebut.
Baca juga: Kapolri: Ikan Busuk Mulai Dari Kepalanya!
Di RSJ, selain menampung sekaligus mengobati para ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), ada juga gedung panti rehab khusus para pecandu narkoba yang terkena gangguan jiwa.
Gangguan jiwa
Terlebih, hasil penelitian dan survey di lapangan, hampir 25 persen para pecandu narkoba akut yang berlangsung lama, bisa menyebabkan gangguan jiwa.
Pasalnya, efek buruk bahaya mengonsumsi narkoba dalam jangka waktu lama dengan stadium akut, bisa merusak otak dan mental para pecandu hingga akhirnya terkena gangguan jiwa.
Baca juga: Maraknya Kenakalan Remaja, Pemkab Sumedang Gelar Kewaspadaan Dini
Dampak buruk itu, berlaku untuk semua jenis narkoba, seperti ganja, tembakau gorila, sabu-sabu, heroin, putau, opium, dll.
Di RSJ itu, ada juga panti rehab khusus bagi pasien HIV/Aids, terutama yang tertular dari pemakaian jarum suntik (penasun) narkoba.
“Mereka (para pelajar) membentuk beberapa kelompok, masing-masing kelompok 5 orang.
Baca juga: Waduh, Kok Bisa Sih! Peredaran Sabu di Sumedang Dikendalikan Napi Di dalam Lapas Banceuy Bandung
Setiap kelompok secara bergantian bisa ngobrol langsung dengan para pasien pecandu narkoba. Dokter jaga dan tenaga medis ikut mendampingi mereka.
Para pelajar juga, bisa bersalaman dengan para pasien HIV/Aids,” tuturnya.
Ia mengatakan, study tour para pelajar ke panti rehabilitasi narkoba, menjadi salah satu upaya efektif.
Hal itu, untuk menyosialisasikan tentang bahaya narkoba, khususnya bagi para pelajar dan remaja generasi muda penerus bangsa.
Baca juga: Ngeri! LSL Faktor RisikoTertinggi Penularan HIV/Aids di Sumedang, Waspada lah!
“Jadi, cara yang paling efektif untuk sosialiasi tentang narkoba, sebetulnya datang langsung ke panti rehab. Bisa ketemu dan ngobrol langsung dengan para pecandu narkoba,” ujarnya.
Upaya lainnya yamg efektif, kata dr. Rahmatullah, yakni mengubah mindshet masyarakat dan aparat, bahwa narkoba itu bukan penyakit masyarakat, melainkan penyakit fisik.
“Kalau pola pikir masyarakat sudah berubah, akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya narkoba,” katanya.
Baca juga: Tangani Segera ODGJ di Sumedang
Dikritik kepala sekolah
Usut punya usut, yang melatarbelakangi dr. Rahmatullah sengaja menantang pihak sekolah untuk study tour ke tempat rehabilitasi para pecandu narkoba, ketika dirinya dikritik oleh salah seorang kepala sekolah.
Saat itu ia menjadi nara sumber pada acara sosialiasi tentang bahaya narkoba di Gedung Negara Pemkab Sumedang, beberapa tahun lalu.
Pesertanya, para siswa, kepala sekolah dan sejumlah tokoh perempuan.
Saat acara berlangsung, ada kepala sekolah yang mengkritik dan menganggap materi sosialiasi yang disampaikan olehnya tidak efektif.
Baca juga: Artis Diduga Gary Iskak, Ditangkap Akibat Mengonsumsi Narkoba
Sebab, penjelasan materi itu banyak di internet. “Saya harus membuat format sosialiasi yang bagus buat para pelajar,” ucapnya.
Nah, berawal dengan kritikan tersebut, dr. Rahmatullah balik menantang para kepala sekolah dengan menyodorkan format sosialiasi dengan cara study tour para pelajar ke panti rehabilitasi narkoba di Lido Bogor.
“Tapi nyatanya, sampai hari ini tidak ada sekolah di Sumedang yang berani menerima tantangan saya,” ujar Rahmatullah sembari tersenyum nyinyir. (Aje/BeritaSumedang.com)***







