Tergerus Zaman, Mahasiswa Universitas Telkom Kampanyekan Kabarulem

Mahasiswa Univeritas Telkom, kampanyekan kaulinan barudak lembur (kabarulem) yang nyaris punah tergerus perkembangam zaman pada Urban Village 2022. (Adang Jukardi/BeritaSumedang.com)

Zaman semakin modern. Tekhnologi pun semakin cangggih. Termasuk di dunia tekhnologi informasi, kini zamannya transformasi digital. Semuanya serba digital.

Seiring berkembangnya zaman, permainan anak pun sekarang semakin modern dan canggih.

Dulu era tahun ’80-an, anak-anak bermain mobil-mobilan cukup membuat sendiri.

Rangkanya dari bambu dan karet gelang menjadi tali  penyambungnya. Bannya dari sendal jepit bekas atau kaleng susu. Tapi sekarang, sudah canggih. Sudah ada mobil-mobilan remote.

Baca juga: Warga Sumringah Dapat Ilmu Peternakan dari Fapet Unpad

Bahkan yang dulu permainan  games balap mobil atau perang-perangan hanya bisa di mesin dingdong memakai koin, kini cukup memakai handphone.

Dan banyak lagi games lainnya di smartphone hingga membuat anak-anak sekarang ketagihan hingga menghabiskan waktu.

Mereka kini lupa dengan permainan anak-anak tradisional zaman dulu. Walaupun sederhana hanya terbuat dari barang bekas, tapi mengasyikan. Anak-anak bisa ceria dan bergembira memainkannya.

Dampak negatif hermain gadget

Berbeda dengan permainan anak zaman now. Meski modern, banyak dampak buruk imbas permainan games di gadget.

Baca juga: Sebagai Bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat, Praja IPDN Ikuti BKP di 120 Desa di Kabupaten Sumedang

Anak-anak jadi kurang bergaul di luar. Bahkan berlama-lama main games online, bisa merusak kesehatan. Yang bahayanya lagi, mempengaruhi karakter anak menjadi individualistis.

Mereka tidak memperdulikan lingkungan sekitar alias cuek atau bodo amat. Anak-anak zaman now, asyik dengan kehidupannya sendiri.

Kaulinan barudak lembur

Kondisi itu lah yang melatarbelakangi kelompok mahasiswa MC (Marketing Communication)-4 Desa Wisata Saung Ciburial,

sengaja mengangkat “kaulinan barudak lembur” (Kabarulem/permainan anak desa) di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut.

Baca juga: Sebanyak 965 Mahasiswa Unsap Ikuti KKN Tematik Digital

“Tadinya kami mau nge-brand dodol garut atau domba garut, tapi sudah banyak daerah lain yang mengangkatnya.

Oleh karena itu, pilihan kami jatuh pada kaulinan barudak lembur yang kondisinya nyaris punah tergerus perkembangan zaman yang modern dan serba canggih.

Padahal, kabarulem ini identitas budaya masyarakat yang harus dilestarikan bahkan butuh pengembangan di tengah-tengah masyarakat sekarang,” ujar Humas Binar Ciboerial Muhammad Rofi Jamil.

Ia katakan itu pada “Urban Village D’ Fest” Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis (FKB), Universitas Telkom.

Baca juga: Ngeri! LSL Faktor RisikoTertinggi Penularan HIV/Aids di Sumedang, Waspada lah!

Tempatnya di lapangan parkiran FKB Universitas Telkom, Jalan Terusan Buah Batu, Bandung, Sabtu, 7 Januari 2023

Acara bertema “Sustainable Tourism” itu, dibuka secara simbolis dengan gunting pita oleh Staf Bidang Industri Agro, Kimia, Tekstil dan Aneka, Disprindag Jabar Lenggana Kalingga Adipanagara serta Dekan FKB Ade Irma Susanty. Hadir, Pembina OC Ratih dan Ketua OC Stefanie.

Rofi mengatakan, para mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Telkom University (KM44-MC4) semester 4 dan 5, sengaja mengangkat kabarulem dengan membangun brand bernama Binar (Bingah, Asri, Segar) Ciboerial.

Mereka berupaya membangun brand tersebut dengan menyosialisasikan serta mengampanyekan kabarulem kepada para siswa SD dan SMP, termasuk kepada sejumlah komunitas.

Baca juga: Sumedang Gelar Festival Olah Raga Rekreasi, Tradisional dan Budaya, Kayak Apa Sih?

Para mahasiswa  sengaja membangun brand tersebut, karena banyak anak- anak dan para remaja khususnya di perkotaan, yang tidak tahu kabarulem atau permainan tradisional.

Bahkan  orang tua sekarang pun, jarang yang mengajarkan anak- anaknya permainan tradisional.

“Padahal, kabarulem itu banyak manfaatnya. Selain melatih motorik anak, juga mengurangi ketergantuangan anak terhadap game online dan penggunaan gadget,” tuturnya.

Ia mengatakan, ketika  anak-anak sekarang ketagihan game online di handphone, menjadi tantangan yang cukup berat bagi para mahasiswa untuk mengampanyekan kabarulem tersebut.

Baca juga: Mau Tahu! Ini Tujuh Sumber Mata Air untuk Mencuci Benda Pusaka, Keraton Sumedang Larang

Terbantu permainan lato-lato atau nok-nok

Untungnya, sekarang ini lagi viral permainan anak lato-lato atau nok-nok, sehingga kampanye kabarulem sedikit terbantu.

Terlebih nok-nok merupakan salah satu permainan anak zaman dulu yang terbarukan

“Memang berat, tapi terbantu dengan nok-nok yang sekarang lagi viral,” tutur Rofi.

Kabarulem, kata dia, banyak macamnya. Ada oray-orayan, perepet jengkol, sasalimpetan, sorodot gaplok, enggrang batok, sapintrong (bermain karet), gangsing dan nok-nok.

Baca juga: Sah! Kerajaan Sumedang Larang Pewaris Tahta Kerajaan Pajajaran, Ini Bukti Sejarahnya

Dari sekian banyak kabarulem, ada kabarulem yang khas di Desa Wisata Saung Ciburial di Desa Sukalaksana, yakni perepet jengkol dan sasalimpetan.

“Hanya saja, kesulitan kami mencari informasi tentang asal-usul beberapa jenis kaulinan barudak lembur tersebut,” kata Rofi.

Apabila ada wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Saung Ciburial, penyambutannya dengan kabarulem.

Potensi wisata

Oleh karena itu, kabarulem menjadi potensi wisata dan kearipan lokal yang perlu pelestarian bahkan pengembangan menjadi daya tarik wisata di Desa Sukalaksana.

Baca juga: Orang Sunda Wajib Tahu! Ini Pembuat Mahkota Binokasih Raja Pajajaran

Melalui potensi wisata kabarulem, harapannya bisa meningkatkan perekonomian warga, membuka lapangan pekerjaan sehingga bisa menyejahterakan.masyarakat.

Apalagi, kabarulem kini mendapat perhatian  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menjadi potensi wisata.

Terlebih lagi, Desa Wisata Saung Ciburial, terpilih menjadi desa wisata terbaik kedua tahun 2020 oleh Kemenparekraf.

Mahasiswa sudah menyosialisasikan potensi wisata budaya kabarulem di Bandung. Sasarannya anak usia 8 sampai 12 tahun.

Baca juga: Ini Masjid Tertua di Sumedang, Menyimpan Sejarah Kelam Memilukan!

Kampanyekan kabarulem

Para mahasiswa MC-4, menyosialisaskan sekaligus mengampanyekan kabarulem kepada 1.200 orang peserta di 5 sekolah. Dari 5 sekolah itu, 4 sekolah yang para siswanya masih asing dengan kabarulem.

“Namun demikian, anak-anak sangat antusias dan exited banget ketika kami mengajarkan kabarulem ini. Sampai- sampai, mereka minta kita untuk mengajarkan dan melatih kembali kabarulem ini.

Kami mengajarkan kabarulem langsung dengan praktiknya. Ibu gurunya sempat bilang, ini mah permainan ibu dulu, jadi bernostalgia lagi,” ujar Rofi.

Guna menggencarkan lagi potensi kabarulem, para mahasiswa pun menpromosikan dan mengampanyekan di berbagai medsos.

Baca juga: Fosil Kura-Kura dan Buaya Zaman Purba Ditemukan di Sumedang, Dony: Ini Kesejarahan Baru

“Bahkan branding kabarulem Binar Ciboerial ini dapat atensi Kak Seto dari LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia),” tuturnya.

Hanya saja, ada beberapa kendala dalam kegiatan itu. Seperti halnya, keterbatasan SDM dan terbatasnya waktu.

Selain lokasinya agak jauh di Garut, juga para mahasiswa harus membagi waktu dengan tugas dan jadwal perkuliahan lainnya. “Padahal, anak-anak sangat antusias dengan kabarulem ini,” katanya.

Angkat potensi wisata Jabar

Menanggapi hal itu, Dekan FKB Ade Irma Susanty mengatakan, melalui kegiatan tersebut, para mahasiswa mampu menghasilkan berbagai karya sehingga bisa menjadi wirausaha baru.

Baca juga: Bupati Bandung Dadang Supriatna: Saya Tak Mau Dengar Masyarakat Kelaparan!

“Kami bisa berkolaborasi lagi dengan masyarakat desa untuk melakukan pembinaan, termasuk berkolaborasi dengan pemda untuk tindak lanjut ke depannya,

Sebab, kami juga ingin berkontribusi bagi bangsa ini. Nah, kita lakukan city branding di berbagai wilayah desa di Jawa Barat.

Bahkan kami juga ingin berperan aktif dalam meningkatkan potensi wisata di Jabar dengan mengangkat kearifan lokal masyarakat di pedesaan,” ujarnya.

Terlebih, lanjut dia, branding wisata di desa harus meningkat lagi. Sehingga, bisa mendongkrak perekonomian warga yang lebih baik.

Baca juga: Mau Tahu Sumber Tanah dan Air dari Sumedang yang Diterima Presiden Jokowi untuk Pembangunan Ibu Kota Nusantara? Ini Ulasannya

“Jadi, selain mahasiswa bisa mendapatkan manfaat dari pembelajaran ini, juga bisa berkontribusi membangun potensi desa,” kata Ade Irma.

Pembina OC Ratih menambahkan, secara teknis memang kegiatan para mahasiswa itu ada kendala. Kendalanya, lokasinya jauh ke beberapa desa di Jabar.

Sementara mereka juga harus mengerjakan tugas dan jadwal perkuliahan lainnya.

“Oleh karena itu, kami latih para mahasiswa untuk bekerja secara tim membangun desa.

Baca juga: Atas Izin Allah SWT, Ilmu dan Kesaktian Saciduh Metu Saucap Nyata Pangeran Mekkah, Tahu Sumedang Bisa Terkenal

Sehingga, brand desa tersebut bisa dikenal luas, baik lokal nasional bahkan internasional.

Potensi di desa itu begitu besar. Bahkan menyimpan berbagai keunikan sehingga bisa menjadi daya tarik wisata.

Harapannya mampu mendorong perekonomian warga sekitar,” tutur Ratih. (Adang Jukardi/Pemred BeritaSumedang.com)***